Wednesday, April 28, 2010

Mandiri 2010

Saya punya buku kas pribadi sejak 1 Januari 2010. Sebetulnya di 2007 lalu juga sudah, bahkan di kelas 1 SMA saya bukan hanya punya catatan, tetapi saya punya bisnis bernama Asterix Inc. yang melayani penjualan coffemix dan mie instan di GMC 25 dan dari uang pribadi dan bisnis itulah saya belajar praktek langsung pelajaran akuntansi, pelajaran terfavorit saya yang hanya 1 semester seumur hidup saya menerimanya.

Dari buku kas itulah, akan saya pertanggung jawabkan uang orang tua yang masih terpakai oleh saya hingga masuk tahun 2010 ini. Itu bukan uang cuma-cuma, itu uang saya pinjam, utang!, dan akan saya bayar uang pula, sebagai konsistensi pernyataan saya, bahwa di tahun 2010 ini saya sudah mandiri 100%.
Buku Kas Pribadi Rizky, setiap rupiah tercatat disini

Monday, April 26, 2010

Pesan dari Andika Setyo H

Andika adalah salah satu stakeholder bisnis saya. Memang bukan sebatas stakeholder, ya hampir mendekati konsultan sepertihalnya 3 konsultan pribadi saya : Mas Hendro, Mas Arif dan Ria Spensaba, tapi belum.

Saya banyak dapat pelajaran diantaranya tentang Coorporate Culture di dunia pegawai negeri, prinsip-prinsip dasar manajerial, komunikasi efektif dan lain sebagainya. Saya ingin ketengahkan satu saja dulu disini yang sangat berarti untuk saya.

Terakhir Andika datang ke Purwokerto ada Ayu dan Meta juga menemani saya mengobrol, hingga menjelang pamitannya saya (karena saya yang pergi duluan kemarin), ada satu pesan berharga, begini : "Siapa yang paling berhasil, bukan dia yang memiliki kekuatan, kekuasaan, tetapi dia yang paling pandai beradaptasi."

Bukan pesan baru, karena ini adalah pesan yang persis saya dengar dari Pa Mustar di Sang Pemimpi. Namun, pesan inilah yang mentenagai saya untuk menghadapi pertemuan-demi pertemuan yang (jujur) tidak mudah saya lalui tapi harus saya mampui, Colaps bisnisnya Rhea yang kemudian dia memilih hengkang, pernyataan mundurnya Hilmy, statementnya Azis soal warnet dan Beralih rel nya Andri.

Tuhan kirimkan energi untuk mentenagai saya lewat Andika, Bersyukur kepada Allah SWT, berterima kasih saya kepada Andika.

Dan kata Pa Zainal di FB kemarin, "sesuatu itu menjadi berharga, kalau ada pada waktu dan tempat yang tepat."

Friday, April 23, 2010

Mas Agus Ultra & Aster Disc

Membuka usaha si persoalan gampang mas, mempertahankannya itu loh. Setiap bisnis punya lika-liku (karakteristik)-nya sendiri-sendiri. Penguasaan terhadap itu secara detaillah yang menjadi kunci kesuksesan seseorang berbisnis.

Monday, April 19, 2010

Oki Novendra dan Cara Belajarnya

Pada International Conference Young Scientists ke-17 di Grand Bali Beach, Sanur, Bali, 13 April kemarin Oki mendapat medali perak atas keberhasilannya mengotak-atik rumus matematika diferensial sehingga bisa digunakan untuk mengungkap kematian Michael Jackson.

Indonesia memang penuh orang pintar ICYS dua tahun berturut2 Indonesia hanya bersaing dengan Jerman dan Indonesia menang telak dengan medali emas terbanyak. Itulah, level Indonesia memang Jerman, bukannya negara-negara ceremente.

Saya terinspirasi dengan cara belajar Oki Novendra, Ibunya menuturkan anaknya tidak pernah diforsir belajar, anaknya menjadi pandai begitu justru karena tidak dipaksa belajar, aktivitas hobi dan olahraganya seimbang, tidak melulu mengotak-atik rumus.

Oh, ternyata jadi orang pintar itu begitu, banyak2lah download lagu, sering-seringlah bersepeda, backpaking, asahlah otak kanan dengan motivasi dan sebagai orang Islam tentulah ibadah ritualnya yang mantep

Pa Ruli (Mentor EU)

Sewaktu sedang EU angkatan 4, saat itu saya sudah jadi alumni, saya datang ke kelas seminar, tapi tidak masuk ruangan. Saya dan teman saya hanya ngobrol dengan Pa Ruli di luar ruangan, obrolan yang sekitar setengah jam tapi syarat ilmu.

Pengusaha sukses yang salah satu usahanya adalah membeli franchise cuci mobil itu membagikan banyak ilmu, salah satunya saya ingin sharingkan disini :

"Niatkan bisnis untuk menolong orang lain, maka keluarga dan dirimu sendiri akan diurus oleh Tuhan."

Kira-kira begitu lah, saya lupa, sudah lama sekali si, 2 tahunan yang lalu. Tapi kalimat inilah yang sekarang terinternalisasi ke dalam diri saya sehingga saya tidak lagi mempermasalahkan teman-teman lain mau ikut membangun SDI dari lininya atau tidak, yang penting sayanya, saya tidak pernah meniatkan bisnis untuk sukses sendiri, saya rela jadi jembatan keberhasilan SDI yang mereka ada didalamnya.

Teman lain akan seperti itu atau tidak, itu terserah, saya tidak berhak memaksakan. Terima kasih Pa Ruli dengan Mac cantiknya

Indonesia Menghafal, TPI tiap Ahad 13.00

Ustadz yang satu ini memang solutif dan aplikatif, itulah Yusuf Mansyur, seorang yang menurut saya penyerahan diri dan kepercayaan kepada Allah SWT nya jempol abizz, bukan cuma di bibir tapi di action.

Di TPI jam 13.00 tiap Ahad ada acara keren, Indonesia Menghafal. Fenomenal menurut saya, dimana bacaan Al Quran dengan keindahannya, kecerdasan tajwid, tahsin dan bla bla bla nya saya kurang ngerti betul-betul menampilkan indahnya Al Quran di TV yang ditonton tanpa batas ruang dan sekat strata, saya menerka akan banyak mualaf lahir gara-gara nonton acara ini.

Saya ingin bagikan metode sederhana yang diajarkan Yusuf Mansyur untuk menghafal Al Quran, satu tapi sangat aplikabel, yakni dengan drilling empat huruf empat huruf. Pecah ayat menjadi 4 huruh (boleh 3 atau 5 sesuai konteks), lalu ulang-ulang hingga puluhan kali, baru lanjut ke empat ayat berikutnya, begitu seterusnya. Cobalah, ampuh lho..

Dan dari acara itu dan banyak acara-acara yang saya datangi saya menemukan pola yang saya sebut EMPAT YANG SALING MENJAGA. Inilah jawaban pertanyaan saya dari dulu, bagaimana cara menjaga amalan kita? ketemu jawabannya di pola ini, yakni menjaga amalan dengan amalan. Membaca dan menghafal Quran akan menjaga niat puasa sunnah kita, puasa sunnah akan menggerakkan langkah kita untuk sholat sunnah, dan sholat sunnah akan meringankan sedekah kita sebagai ungkapan syukur, dan sedekah kita akan membuat kita termagnet oleh Al Quran begitu seterusnya.

Hak cipta pada Rizky Dr

Monday, April 5, 2010

Niels Bohr

Sir Ernest Rutherford, Presiden dari Royal Academy, dan penerima Nobel Fisika menceritakan kisah ini:

"Beberapa waktu lalu aku menerima panggilan dari kolegaku. Dia akan memberikan nilai nol untuk ujian salah seorang siswanya, tapi siswa tersebut berkeras dia harus mendapatkan nilai sempurna. Sang instruktur dan siswa teresebut sepakat untuk penengah yang obyektif dan aku yang dipilih".

Soal ujiannya berbunyi: "Tunjukkan cara mengukur tinggi sebuah gedung dengan bantuan barometer."

Siswa itu menjawab: "Bawa barometer tersebut ke puncak gedung, ikatkan dengan sebuah tali, turunkan sampai ke jalan lalu tarik kembali ke atas, ukur panjang tali. Panjang tali itu adalah sama dengan tinggi gedung."

Siswa tersebut berhak meminta nilai penuh karena dia menjawab dengan lengkap dan benar. Di sisi lain, nilai penuh harusnya diberikan atas dasar kompentensi di bidang fisika, dan jawabannya tidak menunjuikkan hal ini. Aku menyarankan ujian ulang. Aku memberikan waktu enam menit untuk menjawab soal yang sama dengan syarat harus dijawab menggunakan dalil-dalil fisika.

Lima menit berlalu, dia masih belum menulis apa-apa. Aku menanyakan apa dia mau menyerah, tapi dia menjawab kalau dia punya banyak solusi, dia cuma memikirkan solusi yang terbaik. Aku menyuruhnya melanjutkan dan pada menit berikutnya dia menyerahkan jawabannya yang berbunyi "Bawa barometer ke puncak gedung, jatuhkan, dan ukur waktunya dengan stopwatch, lalu menggunakan rumus 'jarak=0,5*percepatan*waktu^2, tinggi gedung bisa diukur."

Saat ini aku meminta kolegaku untuk menyerah. Dia setuju dan memberikan siswanya nilai penuh. Saat meninggalkan ruang ujian aku teringat bahwa siswa itu punya beberapa solusi, jadi aku menanyakan solusi apa saja itu.

Siswa itu menjawab, "ada banyak cara mengukur tinggi gedung dengan bantuan barometer. Misalnya, membawa barometer ke luar, lalu mengukur tinggi barometer dan panjang bayangannya, dan mengukur panjang bayangan gedung, dan dengan rumus perbandingan sederhana tinggi gedung bisa diketahui."

"Kalau Anda mau cara yang lebih rumit, ikat barometer dengan tali, ayun seperti bandul di lantai dasar dan di atap untuk menghitung nilai gravitasi. Dari perbedaan nilai gravitasi tinggi gedung bisa dihitung."

"Dengan metode yang sama, bila dari atap talinya di ulur sampai ke dasar lalu diayunkan seperti bandul, tinggi gedung bisa dihitung melalui periode ayunan."

"Ini cara kesukaan saya, bawa barometer ke tempat pemilik gedung lalu katakan: 'Pak, ini ada sebuah barometer, bila Anda memberitahukan tinggi gedung Anda, saya akan memberikan barometer ini."

Saya bertanya apakah dia tidak mengetahui cara konvensional untuk memecahkan masalah tersebut. Dia jawab kalau dia tahu, tapi dia tidak mau terpaku pada satu pola pemikiran saja.

Siswa itu bernama Niels Bohr, peraih Nobel di bidang fisika tahun 1922 dan salah satu ilmuwan fisika yang paling berpengaruh di abad 20.


Sumber :
Mengukur gedung dengan barometer
dikirim oleh Iwan Surya