Wednesday, April 28, 2010

Mandiri 2010

Saya punya buku kas pribadi sejak 1 Januari 2010. Sebetulnya di 2007 lalu juga sudah, bahkan di kelas 1 SMA saya bukan hanya punya catatan, tetapi saya punya bisnis bernama Asterix Inc. yang melayani penjualan coffemix dan mie instan di GMC 25 dan dari uang pribadi dan bisnis itulah saya belajar praktek langsung pelajaran akuntansi, pelajaran terfavorit saya yang hanya 1 semester seumur hidup saya menerimanya.

Dari buku kas itulah, akan saya pertanggung jawabkan uang orang tua yang masih terpakai oleh saya hingga masuk tahun 2010 ini. Itu bukan uang cuma-cuma, itu uang saya pinjam, utang!, dan akan saya bayar uang pula, sebagai konsistensi pernyataan saya, bahwa di tahun 2010 ini saya sudah mandiri 100%.
Buku Kas Pribadi Rizky, setiap rupiah tercatat disini

Monday, April 26, 2010

Pesan dari Andika Setyo H

Andika adalah salah satu stakeholder bisnis saya. Memang bukan sebatas stakeholder, ya hampir mendekati konsultan sepertihalnya 3 konsultan pribadi saya : Mas Hendro, Mas Arif dan Ria Spensaba, tapi belum.

Saya banyak dapat pelajaran diantaranya tentang Coorporate Culture di dunia pegawai negeri, prinsip-prinsip dasar manajerial, komunikasi efektif dan lain sebagainya. Saya ingin ketengahkan satu saja dulu disini yang sangat berarti untuk saya.

Terakhir Andika datang ke Purwokerto ada Ayu dan Meta juga menemani saya mengobrol, hingga menjelang pamitannya saya (karena saya yang pergi duluan kemarin), ada satu pesan berharga, begini : "Siapa yang paling berhasil, bukan dia yang memiliki kekuatan, kekuasaan, tetapi dia yang paling pandai beradaptasi."

Bukan pesan baru, karena ini adalah pesan yang persis saya dengar dari Pa Mustar di Sang Pemimpi. Namun, pesan inilah yang mentenagai saya untuk menghadapi pertemuan-demi pertemuan yang (jujur) tidak mudah saya lalui tapi harus saya mampui, Colaps bisnisnya Rhea yang kemudian dia memilih hengkang, pernyataan mundurnya Hilmy, statementnya Azis soal warnet dan Beralih rel nya Andri.

Tuhan kirimkan energi untuk mentenagai saya lewat Andika, Bersyukur kepada Allah SWT, berterima kasih saya kepada Andika.

Dan kata Pa Zainal di FB kemarin, "sesuatu itu menjadi berharga, kalau ada pada waktu dan tempat yang tepat."

Friday, April 23, 2010

Mas Agus Ultra & Aster Disc

Membuka usaha si persoalan gampang mas, mempertahankannya itu loh. Setiap bisnis punya lika-liku (karakteristik)-nya sendiri-sendiri. Penguasaan terhadap itu secara detaillah yang menjadi kunci kesuksesan seseorang berbisnis.

Monday, April 19, 2010

Oki Novendra dan Cara Belajarnya

Pada International Conference Young Scientists ke-17 di Grand Bali Beach, Sanur, Bali, 13 April kemarin Oki mendapat medali perak atas keberhasilannya mengotak-atik rumus matematika diferensial sehingga bisa digunakan untuk mengungkap kematian Michael Jackson.

Indonesia memang penuh orang pintar ICYS dua tahun berturut2 Indonesia hanya bersaing dengan Jerman dan Indonesia menang telak dengan medali emas terbanyak. Itulah, level Indonesia memang Jerman, bukannya negara-negara ceremente.

Saya terinspirasi dengan cara belajar Oki Novendra, Ibunya menuturkan anaknya tidak pernah diforsir belajar, anaknya menjadi pandai begitu justru karena tidak dipaksa belajar, aktivitas hobi dan olahraganya seimbang, tidak melulu mengotak-atik rumus.

Oh, ternyata jadi orang pintar itu begitu, banyak2lah download lagu, sering-seringlah bersepeda, backpaking, asahlah otak kanan dengan motivasi dan sebagai orang Islam tentulah ibadah ritualnya yang mantep

Pa Ruli (Mentor EU)

Sewaktu sedang EU angkatan 4, saat itu saya sudah jadi alumni, saya datang ke kelas seminar, tapi tidak masuk ruangan. Saya dan teman saya hanya ngobrol dengan Pa Ruli di luar ruangan, obrolan yang sekitar setengah jam tapi syarat ilmu.

Pengusaha sukses yang salah satu usahanya adalah membeli franchise cuci mobil itu membagikan banyak ilmu, salah satunya saya ingin sharingkan disini :

"Niatkan bisnis untuk menolong orang lain, maka keluarga dan dirimu sendiri akan diurus oleh Tuhan."

Kira-kira begitu lah, saya lupa, sudah lama sekali si, 2 tahunan yang lalu. Tapi kalimat inilah yang sekarang terinternalisasi ke dalam diri saya sehingga saya tidak lagi mempermasalahkan teman-teman lain mau ikut membangun SDI dari lininya atau tidak, yang penting sayanya, saya tidak pernah meniatkan bisnis untuk sukses sendiri, saya rela jadi jembatan keberhasilan SDI yang mereka ada didalamnya.

Teman lain akan seperti itu atau tidak, itu terserah, saya tidak berhak memaksakan. Terima kasih Pa Ruli dengan Mac cantiknya

Indonesia Menghafal, TPI tiap Ahad 13.00

Ustadz yang satu ini memang solutif dan aplikatif, itulah Yusuf Mansyur, seorang yang menurut saya penyerahan diri dan kepercayaan kepada Allah SWT nya jempol abizz, bukan cuma di bibir tapi di action.

Di TPI jam 13.00 tiap Ahad ada acara keren, Indonesia Menghafal. Fenomenal menurut saya, dimana bacaan Al Quran dengan keindahannya, kecerdasan tajwid, tahsin dan bla bla bla nya saya kurang ngerti betul-betul menampilkan indahnya Al Quran di TV yang ditonton tanpa batas ruang dan sekat strata, saya menerka akan banyak mualaf lahir gara-gara nonton acara ini.

Saya ingin bagikan metode sederhana yang diajarkan Yusuf Mansyur untuk menghafal Al Quran, satu tapi sangat aplikabel, yakni dengan drilling empat huruf empat huruf. Pecah ayat menjadi 4 huruh (boleh 3 atau 5 sesuai konteks), lalu ulang-ulang hingga puluhan kali, baru lanjut ke empat ayat berikutnya, begitu seterusnya. Cobalah, ampuh lho..

Dan dari acara itu dan banyak acara-acara yang saya datangi saya menemukan pola yang saya sebut EMPAT YANG SALING MENJAGA. Inilah jawaban pertanyaan saya dari dulu, bagaimana cara menjaga amalan kita? ketemu jawabannya di pola ini, yakni menjaga amalan dengan amalan. Membaca dan menghafal Quran akan menjaga niat puasa sunnah kita, puasa sunnah akan menggerakkan langkah kita untuk sholat sunnah, dan sholat sunnah akan meringankan sedekah kita sebagai ungkapan syukur, dan sedekah kita akan membuat kita termagnet oleh Al Quran begitu seterusnya.

Hak cipta pada Rizky Dr

Monday, April 5, 2010

Niels Bohr

Sir Ernest Rutherford, Presiden dari Royal Academy, dan penerima Nobel Fisika menceritakan kisah ini:

"Beberapa waktu lalu aku menerima panggilan dari kolegaku. Dia akan memberikan nilai nol untuk ujian salah seorang siswanya, tapi siswa tersebut berkeras dia harus mendapatkan nilai sempurna. Sang instruktur dan siswa teresebut sepakat untuk penengah yang obyektif dan aku yang dipilih".

Soal ujiannya berbunyi: "Tunjukkan cara mengukur tinggi sebuah gedung dengan bantuan barometer."

Siswa itu menjawab: "Bawa barometer tersebut ke puncak gedung, ikatkan dengan sebuah tali, turunkan sampai ke jalan lalu tarik kembali ke atas, ukur panjang tali. Panjang tali itu adalah sama dengan tinggi gedung."

Siswa tersebut berhak meminta nilai penuh karena dia menjawab dengan lengkap dan benar. Di sisi lain, nilai penuh harusnya diberikan atas dasar kompentensi di bidang fisika, dan jawabannya tidak menunjuikkan hal ini. Aku menyarankan ujian ulang. Aku memberikan waktu enam menit untuk menjawab soal yang sama dengan syarat harus dijawab menggunakan dalil-dalil fisika.

Lima menit berlalu, dia masih belum menulis apa-apa. Aku menanyakan apa dia mau menyerah, tapi dia menjawab kalau dia punya banyak solusi, dia cuma memikirkan solusi yang terbaik. Aku menyuruhnya melanjutkan dan pada menit berikutnya dia menyerahkan jawabannya yang berbunyi "Bawa barometer ke puncak gedung, jatuhkan, dan ukur waktunya dengan stopwatch, lalu menggunakan rumus 'jarak=0,5*percepatan*waktu^2, tinggi gedung bisa diukur."

Saat ini aku meminta kolegaku untuk menyerah. Dia setuju dan memberikan siswanya nilai penuh. Saat meninggalkan ruang ujian aku teringat bahwa siswa itu punya beberapa solusi, jadi aku menanyakan solusi apa saja itu.

Siswa itu menjawab, "ada banyak cara mengukur tinggi gedung dengan bantuan barometer. Misalnya, membawa barometer ke luar, lalu mengukur tinggi barometer dan panjang bayangannya, dan mengukur panjang bayangan gedung, dan dengan rumus perbandingan sederhana tinggi gedung bisa diketahui."

"Kalau Anda mau cara yang lebih rumit, ikat barometer dengan tali, ayun seperti bandul di lantai dasar dan di atap untuk menghitung nilai gravitasi. Dari perbedaan nilai gravitasi tinggi gedung bisa dihitung."

"Dengan metode yang sama, bila dari atap talinya di ulur sampai ke dasar lalu diayunkan seperti bandul, tinggi gedung bisa dihitung melalui periode ayunan."

"Ini cara kesukaan saya, bawa barometer ke tempat pemilik gedung lalu katakan: 'Pak, ini ada sebuah barometer, bila Anda memberitahukan tinggi gedung Anda, saya akan memberikan barometer ini."

Saya bertanya apakah dia tidak mengetahui cara konvensional untuk memecahkan masalah tersebut. Dia jawab kalau dia tahu, tapi dia tidak mau terpaku pada satu pola pemikiran saja.

Siswa itu bernama Niels Bohr, peraih Nobel di bidang fisika tahun 1922 dan salah satu ilmuwan fisika yang paling berpengaruh di abad 20.


Sumber :
Mengukur gedung dengan barometer
dikirim oleh Iwan Surya

Wednesday, March 10, 2010

Jeff Bezos, Amazon.com

Jeff Bezos adalah lulusan Princeton dengan gelar BSE (Bachelor of Science and Engineering) di bidang electrical engineering dan computer science. Setelah lulus tahun 1986, ia ditawari pekerjaan oleh Intel, Bell Labs dan Andersen Consulting, tetapi Bezos justru memilih kerja di Fitel, sebuah start up di bidang “financial telecommunications”.

Fitel adalah sebuah perusahaan yang didirikan oleh profesor-profesor dari Departemen Ekonomi di Columbia University. Inti bisnisnya adalah sejenis bursa online yang memudahkan transfer data dari Negara-negara yang berbeda. Ketika itu belum ada internet, sehingga usah semacam ini tentunya mendatangkan banyak uang.

Tahun 1988, Bezos pindah ke Bankers Trust Company. Ia membuat software BTWord, yaitu software yang memungkinkan klien-klien Banker Trust melihat laporan hasil investasi mereka lewat computer. Sebelumnya, laporan investasi secara berkala melalui hardcopy, tetapi Bezos mengotomatisasikannya lewat computer.
Tahun 1990, Bezos merasa belum siap mendirikan perusahaan sendiri, tetapi sudah siap pindah dari Bankers Trust. Mengapa? Dia Mengatakan bahwa ia akan pindah ke perusahaan dimana ia bias mengejar dambaannya, yaitu suatu system yang diberi istilah “second phase automation”. Apa maksudnya? Yakni dimana kita menggunakan teknologi untuk untuk mengubah proses bisnis yang lama menjadi lebih cepat dan efiesien. Lebih lanjut, kata Bezos, Second Pase Automation adalah “when you can fundamentally change the underlying businees process and do thing in a completely new way. So, it’s more of a revolution instead of an evolution.” (ketika Anda bisa mengubah suatu proses bisnis secara mendasar dan melakukannya dengan metode terbaru. Jadi, semuanya akan lebih tepat dikatakan sebuah revolusi daripada hanya sebuah evolusi.)
Akhirnya pada tahun 1990, ia resmi kerja di D.E. Shaw. Pertengahan tahun 1994, Bezos mengusulkan pada Mr. Shaw untuk membuat took online. Bezos kaget dan kecewa karena idenya ditolak mentah-mentah oleh Shaw.
Namun, Bezos tidak bisa melupakan idenya. Ia selalu melihat angka 2300 persen sebagai angka perkembangan tahunan internet. Dia melihat angka sebagai “huge, potentially wasted opportunity” (peluang besar potensial yang terabaikan). Akhirnya, Bezos mengatakan pada Mr. Shaw bahwa dia akan keluar dari D.E.Shaw dan membangun mimpi besarnya. Menyadari semangat muda Bezos yang meluap-luap, Mr. Shaw dengan karakternya sebagai orang tua yang bijaksana membawa Bezos jalan-jalan ke Central Park. Dia mengatakan bahwa penjualan buku online adalah ide besar. Namun, hal itu akan lebih baik dilakukan oleh orang-orang yang belum mendapatkan pekerjaan bagus, tidak seperti Bezos yang saat itu sedang menjabat Senior Vice President yang keamanan financialnya telah terjamin. Apalagi, menurut aturan siklus perusahaan, sebentar lagi ia akan menjadi CEO di D.E.Shaw.
Bezos mendapatkan waktu 48 jam untuk memikirkan keputusannya keluar. Akhirnya, ia tetap memutuskan keluar. Dia mengatakan, “Nanti Kalau saya sudah berumur 80 tahun, saya mungkin sudah tidak ingat berapa gaji saya di D.E.Shaw tahun 1994, tetapi saya pasti ingat dan menyesal kalau saya tidak terjun ke bisnis internet.” Selanjutnya, Bezos meninggalkan D.E. Shaw yang saat itu sedang memberikannya gaji sebesar 7 figure per tahun (7 figure terkecil adalah $1,000,000 bila bagi 12 sekitar $83,333 per bulan). Sejak itu, Bezos mulai merintis www.amazon.com dan mengembangkannya ke seluruh dunia.

Sebagaimana kita ketahui, produk utama amazon adalah buku. Mengapa harus buku? Sewaktu bekerja di D.E. Shaw, Bezos ditugaskan meneliti tentang bisnis yang bias dikembangkan di internet. Ia membuat daftar sampai 20 barang yang bias dijual, dari software computer sampai perlengkapan. Dalam daftarnya, buku menempati posisi teratas. Tempat kedua adalah musik, tetapi musik dieliminasi karena industri musik saat itu dikuasai 6 label record dan mereka mendominasi distribusi. Sebagai suatu perbandingan sederhana, saat itu ada 300.000 keping CD musik dengan judul berbeda, tetapi ada 3 juta buku dengan judul berbeda.

Menurut Bezos, saat saat itu penjualan dikatakan “large and fragmented”(luas dan terbagi) karena tidak ada yang mendominasinya. Di Amerika, ada lebih dari 10.000 penerbit buku, tetapi kebanyakan hanya memiliki kurang dari 10 judul buku, tetapi kebanyakan hanya memiliki kurang dari 10 judul buku. Bahkan, Random House yang merupakan penerbit terbesar hanya menguasai 10% pasar. Dua took buku terbesar pun, Barnes & Noble dan Border, jika digabungkan hanya menguasai sekitar 25% dari $30 miliar total sales. Ketersediaanpun merupakan salah satu keuntungan bisnis buku. Buku dapat dipesan langsung dari penerbit atau dari jaringan distributor.
Makin lama amazon makin berkembang dan seperti yang kita lihat saat ini amazon masih berdiri mantap, meskipun saingannya kian hari kian bertambah.
“Visi kami,” simpul Jeff,” adalah perusahaan dunia yang sangat berpusat pada pelanggan. Tempat orang untuk menemukan dan mengetahui segala sesuatu yang mungkin ingin mereka beli secara online.”Tujuan Amazon.com bukan menjadi toko buku terbesar di dunia melainkan toko serba ada terbesar di dunia.”
Sebagai “toko serba ada terbesar di dunia” Jeff selalu mengingatkan enam nilai dasar perusahaan. Keenam hal itu adalah :
1. Obsesi Pelanggan. Pelayanan kepada pelanggan — memberikan apa yang diinginkan pelanggan pada harga semurah mungkin dan dengan waktu secepat mungkin — selalu merupakan tugas terpenting
2. Kepemilikan. Semua karyawan ditawari peluang untuk menjadi pemegang saham di Amazon.com. “Semua orang adalah pemilik,” ujar Jeff Bezos.
3. Melakukan tindakan segera.”Lakukan itu sekarang”. “Jangan menunda-nunda”, “Wujudkanlah” adalah jargon-jargon yang selalu didengungkan. Tentu saja ditambah satu frasa lagi yakni “Tumbuh Besar dengan Cepat.”
4. Kesederhanaan. Yang tampak dari kantor sebuah perusahaan sebuah Amazon.com adalah kesederhanaannya. Uang tidak dihambur-hamburkan untuk dekorasi dan kemewahan.
5. Standar Karyawan yang Tinggi. Amazom.com tetap menginginkan orang-orang yang cerdas. Mereka disaring melalui daftar riwayat hidup dan wawancara untuk menemukan mereka.
6. Inovasi. Amazon.com terus memperkenalkan gagasan-gagasan baru, sistem baru dan penawaran baru kepada para pelanggannya.

Sumber :http://one.indoskripsi.com/judul-skripsi-makalah-tentang/kisah-sukses-pendiri-amazon.

Friday, March 5, 2010

up! the movie

keren banget, sharingnya kapan2 deh.

Ini sharingnya.

Wednesday, March 3, 2010

Punk in Love

Nonton semalem, sendirian. Wkwkwk, dasar film "saru", itu kalau dilihat dari sisi bahasa. Tapi tak tahulah, saya tak begitu mengerti kehidupan bani Bunk. Hanya saya akui, secara implisit banyaka pesan2 moral yang terselip di film berbahasa kadang kasar dan adegannya beberapa ngawur itu.

Satu pelajaran sangat berharga yang ingin saya review adalah soal perjalanan panjang mereka dari Malang menuju Jakarta. Andai saja mereka naik Gajayana dan ngumpet di WC saat ada pemeriksaan tiket, atau selama di perjalanan jangan pernah keluar dari WC, mungkin perjalanan tidak akan sepanjang itu, sehari, beres.

Namun, apa yang terjadi, begitu banyak kejadian tidak terduga, harus nyasar ke Bromo, mampir di makam Bung Karno, hampir mati karena tetanus di Cirebon. Satu hal, di film itu semua terlihat pendek dan fine-fine saja, karena para penontonpun saya yakin sudah kadung optimis bahwa apapun yang terjadi pasti endingnya mereka akan sampai Jakarta.

Akan tetapi, seandainya kita yang ada di posisi mereka, apakah sesederhana itu? tidak. Ada terlalu banyak peristiwa yang membuat keraguan untuk pulang ke Malang lagi muncul, ada terlalu banyak bisikan, apa kalau sampai di Jakarta misi mereka menaklukan Maia akan sukses, ada terlalu banyak konflik yang membuat mereka harus menahan gerutu dan nafsu untuk menimpuk teman sendiri.

Ah, itukah simbol perjalanan sukses? jangankan cuma diceriatkan, bahkan difilmkanpun tidak cukup mewakili perasaan dan perang batin yang ada selama perjalanan begitu banyak belibet sana sini.

Kalau kita pandai mengambil makna, semua permasalahan itu adalah peluang, untuk kita bisa meneguhkan keyakinan sesering mungkin, meluruskan niat selurus mungkin dan memaklumi salah dan lalai sebanyak apapun.

Friday, February 12, 2010

Emha Ainun Nadjib

"Apa gunanya ilmu kalau tidak memperluas jiwa seseorang sehingga ia berlaku seperti samudera yang menampung sampah-sampah. Apa gunanya kepandaian kalau tidak memperbesar kepribadian seseorang sehingga ia makin sanggup memahami orang lain?"

Izar Handika

Enam tahun sesekolahan, tapi enggak pernah dekat-dekat amat, paling pas kelas 1 SMP sekelas dan kelas 3 SMA sama-sama jadi ketua kelas. Pendiam, tapi pemikirannya meledak-ledak juga... beberapa inspirasi dari beberapa obrolan dengan seorang Izar


1. Ilusi Negatif



Inilah kegagalan primer para orang-orang yang terbakar semangatnya oleh motivasi dan ajakan berpositif thingking. Kegagalan yang diakibatkan oleh dirinya tidak bisa menghilangkan ilusi negatif. Ilusi negatif apa itu? Ilusi negatif yang mengabarkan pada kita bahwa hari esok akan lebih gampang dari hari ini untuk memulai.

Iya, kan? berapa sering penundaan dengan niat kita bisa lebih sempurna mengawali bila sesuatu itu diawalinya besok justru membuat semuanya tidak berjalan berbeda sama sekali dengan yang kita bayangkan? Bukannya hari besok menjadi timing yang lebih sempurna, justru ketika hari besok datang, mood sudah hilang, semangat sudah memudar, hambar.

Maka itu, belajar untuk tidak sok tahu mengira-ira kalau memulainya besok itu akan lebih sempurna itu penting bagi orang-orang yang ingin sukses. Timing tersempurna ya saat ini.



2. Melupakan yang sudah ada

Banyak orang berusaha mendapatkan yang dia inginkan, termasuk pasangan hidupnya dengan mengejar si-dia dengan mati-matian. Padahal, sikap seperti itu justru membuat enek dan muak si-dia. Ya, analoginya sederhana, orang lebih tertarik untuk mengunduh buah kesemek yang masih di pohon, yang untuk mendapatkannya perlu perjuangan, ketimbang buah apel yang ada di atas meja yang tinggal ambil.

"orang lebih menghargai apa-apa yang belum ia dapatkan dan suka melupakan apa-apa yang ia miliki."

Maka, cara terbaik mendapatkan si-dia bukanlah dengan mengejar-ngejarnya dengan tidak tahu malu. Tetapi memantaskan diri ini menjadi pribadi yang berkualitas. Bukan fokus pada kualitas pengejaran kita, tetapi fokus pada kualitas pribadi kita.

Tapi jangan diartikan pasif, nah lo, susah kan. ya, aktif, tapi tidak mengejar-ngejar, tapi justru menjadi pribadi yang memenuhi batas kepantasan untuk ia unduh.

Saturday, January 16, 2010

Chatting dengan Pa Adnan (Dosen Saya di Akatel)

"Sebetulnya itu cuma persoalan persepsi Mas", kata Pa Adnan menutup obrolan di YM kemarin.

Tiga orang ada mungkin, yang menyarankan saya segera keluar saja dari kuliah. Fokus di bisnis. Kata Bob Sadino juga begitu, entrepeneur tapi tetep kuliah, ya entrepeneur banci namanya. Tapi obrolan dengan Om Bob secara pribadi waktu itu di sebuah cafe di Bandung memahamkan saya bahwa "kuliah" itu berbeda dengan "kuliah".

Paham tidak? Kalau tidak paham, tunggu postingan kapan-kapan saya tentang bedanya "kuliah" dan "kuliah", saya tidak akan bahas disini. Tapi ada satu gambaran yang mungkin bisa menuntun pemahaman Anda. Begini, kuliah saya dibiayai orang tua, alhamdulillah orang tua saya ridho, tidak terpaksa, buktinya sering saya ditanya duluan soal bayaran, hampir tidak pernah minta duluan. Pesan Bapak saya begini "kuliah yang bener!".

Coba apa definisi kuliah yang benar menurut orang kebanyakan? : cepat selesai, kalau perlu cumlaude, kalau sudah selesai mau lanjut lagi ya boleh, atau cari kerja, cari penghidupan dari nilai yang tertera di ijasah-ijasahmu. Soal nyontek, soal titip absen, itu bukan urusan Bapak, bukan juga urusan Departemen Agama.

Setelah lulus, banyak-banyak berdoa agar bernasib baik. Seperti apa nasib baik yang tergambarkan saat berdoa itu? Mengirim lamaran lalu dapat panggilan dan diterima kerja, dengan gaji yang tinggi, menjadi ekor singa di ibukota. Mudik setahun sekali, yang penting tiap bulan ngirimin orang ke kampung. Sedekah 2,5 % itu sudah cukup menurut anjuran agama. Bekerjalah yang baik agar bisa pensiun dengan tenang. Kalau ada rasa bosan, ada naluri kebebasan untuk mengembangkan diri yang terbendung di kantor, katakanlah pada diri sendiri "sudah, ini jalan hidupku, jalani saja, ikhlas saja."

Entahlah, tapi (dengan boleh dipersalahkan atau diperbenarkan) saya punya pendapat yang berbeda tentang kuliah yang benar. Kuliah yang benar adalah mempersiapkan kehidupan yang baik dilandasi dengan penghidupan yang baik. Kekuatan materi disiapkan dengan manajemen prioritas, keberanian mengambil resiko dan bertanggung jawab atas susah senangnya keputusan itu, menjalin relasi yang diluar nalar luas dan tingkatannya, memelihara api idealisme sebagai kekayaan terakhir anak manusia yang kebanyakan lenyap ketika usia muda berakhir dan membangun pilar-pilar masa depan hari ini, mencakup aspek : mental, spiritual, adversity dan skill.

Sehingga seselesainya kuliah saya menjadi manusia, bukan menjadi robot, bukan menjadi mesin, bukan menjadi perpustakaan berjalan. Manusia yang memiliki daya imajinasi menyalak-nyalak, manusia yang memiliki kiprah seluas gandhi, semandiri Dahlah Iskan, sefenomenal Onno W Purbo dan sebermanfaat Triyono Budi Sasongko.

Ya, tentu orang tua saya lebih senang saya tetap menjadi orang, bukan berubah menjadi robot, mesin atau perpustakaan seselesai saya kuliah nanti. Namun demikian, kuliah saya yang kali ini saya rencanakan untuk saya rampungkan 2 semester kedepan. Mengapa begitu? Ada dua alasan utama yang dari beberapa waktu lalu saya simpan dikepala dan kali ini saya ingin tuangkan di note.


Pertama : Chat dengan Pa Adnan

Mungkin bisa dilihat lagi kalimat pembuka note ini, ya, kuliah menyenangkan atau membosankan itu masalah persepsi saja. Sama seperti di postingan lain saya yang berhasil mengubah persepsi adik saya tentang bau uap kawah sebuah kawah di Dataran Tinggi Dieng, dari yang semula dia (adik saya) pikir sebagai bau tidak enak, menjadi bau yang unik (dan enak).

Saya bukan hanya mengajarkan ke adik-adik saya soal persepsi, di training-training saya juga saya sampaikan, di banyak training yang saya ikuti juga saya terima soal ini, di banyak obrolan dengan orang-orang terbaik di negeri ini juga saya dapati materi ini.

Hm, apa iya, untuk materi yang saya bawakan sendiri, saya tidak mau bereksperimen membuktikannya untuk persoalan kampus? Bagaimana mungkin rumus mengubah persepsi yang saya ajarkan saya bilang ampuh, kalau untuk persoalan sepele (kampus) saja saya tidak iseng-iseng coba terapkan?

Itulah alasan pertama saya, saya ingin mengikuti pengingat dari Pa Adnan karena sinkron dengan materi training saya : ubah persepsi dan suskes (dikampus).

Kedua : Sejalan dengan Fase Entrepeneurial Saya

Ini tahun keempat saya berentrepeneur, tahun depan berarti tahun kelima? Apa artinya, kalau saya mengabaikan perbandingan kesuskesan saya dengan teman-teman lain, kalau saya hanya menjadikan parameter kondisi saya sebelum saat ini dengan kondisi saya saat ini, berarti saya sudah sukses ribuan persen.

Memang, kesuksesan yang ribuan persen itu menjadi susah terakumulasi karena bentuknya bermacam-macam, ada yang dalam bentuk kekayaan finansial, kekayaan relasi, kekayaan konsep, kekayaan investasi pilar-pilar masa depan, kekayaan ketahanan mental, kekayaan pengetahuan dan pengalaman hingga kekayaan koleksi kegagalan.

Mulai Awal 2010 kemarin saya berkomitmen untuk mentransformasikan kekayaan yang saya dapatkan itu fokus pada kekayaan finansial, karena apa? kekayaan finansial pada kondisi saya saat ini akan berpotensi menjadi NOS untuk melesatkan kekayaan-kekayaan saya dari keseluruhan segi.

Dan dengan tingkat toleransi kemelesetan hitun-hitungan hingga 4X lipat, seharusnya ketika pas saya selesai kuliah nanti, saya telah mencapai fase entrepenuer aman. Dimana seperti yang para guru-guru terbaik saya bilang, "kamu akan tetap diakui sebagai manusia utuh" (haha, seperti apa manusia tidak utuh itu?).

Apa maksudnya manusia utuh? Saya tidak perlu cemas karena orang tua tidak akan menuntut saya mendaftar CPNS, saya tidak perlu mengemis ke calon mertua dengan status palsu untuk menyunting anaknya. Ya, penghidupan aman, jadi saya tinggal fokus ke kehidupan. Bagaimana usaha yang empat tahun saya fokusi ini berkembang dan melesat, bagaimana orang-orang disekeliling saya yang selama ini terabaikan dapat terberdayakan dengan optimal, bagaimana peluang-peluang besar yang dulu terasa diatas langit saat itu bisa dikelola, bagaimana dunia memandang saya sebagai saya dengan karakter yang saya bawa, bukan pada gelar, pada institusi yang saya naungi.

Ya, setahun lagi saya siap untuk tidak menyandang status mahasiswa. Dan selama setahun kedepan adalah praktikum saya membuktikan kekuatan mengubah persepsi dengan kampus sebagai laboratoriumnya.

Tuesday, December 22, 2009

Terapi Berpikir Positif


Setelah buku tanya jawab remaja tentang Sex, ini buku yang saya baca tadi malam di Perpustakaan terbesar di Purwokerto : Gramedia.

Dr Ibrahim sang penulis adalah seorang motivator muslim. Ya, yang dibahasnya tidak jauh-jauh dari teori kekuatan pikiran. Satu hal yang menarik, arahkanlah pikiran kita dengan ilmu. dalam sehari manusia rata-rata memiliki 60.000 jenis pikiran, sayangnya 80% dari itu arahnya negatif.

Bayangkan 48.000 di pikiran kita arahnya negatif dalam seharinya, bagaimana tidak rusak tuh tubuh dan psikis kita?

Cara mengarahkannya ya dengan ilmu.

apa yang akan terjadi, apa yang kita alami, semua itu tercipta berawal dari pikiran kita sendiri.

Thursday, December 17, 2009

Api Sejarah


Belum selesai membaca buku tebal bernama API Sejarah. Betul, Rasulullah dulu berdagang, dalam berdagang itulah beliau bisa mengaktualisasikan nilai-nilai kemuliaannya sehingga menjadi magnet keteladanan. Maka berkembanglah ajaran yang saat itu masih minoritas yakni "Islam" menjadi The Way of Life yang akhirnya mendunia.

Saad bin Abi Waqash membangun masjid pertama di Tiongkok, itupun beliau kesana pada saat sedang menjalankan misi dagang.

Dan begitu juga bukan Islam masuk ke Indonesia? di Pasar ajaran yang mulia itu diaplikasikan, lalu satu demi satu orang mengikuti, lalu dibangunlah masjid di pasar itu, dijalankanlah aktivitas pengembangan diri berbasis ilmu agama disana.

Ya, tanpa transaksi jual beli, tanpa pasar, ajaran yang mulia itu tidak menyebar sampai kesini dan ke ribuan tempat lainnya sekarang. Disinilah kita perlu hati-hati dalam mendefinisikan makna matre, sekali lagi, bukan pada ihwal mencari uangnya saja, tapi termasuk pada untuk apa uang itu digunakan.

Tanpa uang, Sultan Hasanuddin tidak bisa menegakkan panji Islam dengan peperangan laut terbesar sepanjang sejarah Nusantara. Tanpa uang, mualim (entrepreneur laut) Jawa tidak bisa menjamah ke Kawasan Timur Indonesia.

Sebuah konsep integral, dimana basic need direngkuh berbarengan (jawa : san gawe) dengan self-actualizing need dan kebutuhan-kebutuhan jiwa lainnya. Dua aktivitas berbarengan bisa dijalankan bersamaan, bagaimana itu mungkin? Karena Rasulullah bersama Abu Thalib, karena Saad bin Abi Waqash bersama kafilah dagangnya, karena Walisongo itu jumlahnya bukan satu, tapi sembilan. Ya, tanpa kolaborasi, itu sulit untuk san gawe dilakukan. (lihat juga : dua cara untuk fokus)

Wednesday, December 16, 2009

Pak Waidi

Hidup dan huruf C.


Ilmu ini saya dapat dari Guru kita bersama, Pa Waidi. Ilmu ini kemudian saya teruskan di training leadership yang saya bawakan. Saking sederhananya konsep ini, bahkan anak SMP pun bisa menerimanya dengan baik.


Huruf C itu cekung atau cembung? kalau dari sisi kiri orang melihatnya cembung, sedangkan kalau dari sisi kanan orang akan melihatnya cekung? Jadi salahkah orang yang mengatakan cekung atau cembungnya huruf C? Yang salah adalah yang mengatakan huruf C itu cekung yang cembung atau cembung yang cekung.


Ya, pelajaran ini tentu sudah dikuasai oleh para pembaca blog ini yang budiman, karena itu pelajaran ini memang sengaja diberikan untuk diri saya sendiri. Ini soal ketegasan, ini soal keikhlasan menanggung konsekuensi, bukan soal salah dan benar. Karena saya yakin benar.


Benar, ketika kita mencoba fokus pada kepentingan pribadi, maka orang-orang cekung akan mengatakan kita egois, acuh. Sedangkan orang-orang cembung mengatakan bagus, kamu sedang memampukan diri untuk menjadi teladan.


Ketika kita mencoba merangkul semua dalam kepentingan bersama, orang-orang cekung acuh tak acuh dan bilang melunjak, menyalahi wewenang, tetapi orang-orang cembung mengatakan, inisiatif yang bagus untuk menjalin kembali komunikasi.


Sudahlah, pakai persepsi diri sendiri saja.

Saturday, December 5, 2009

Sedona Method

"tadi aku lupa jelasin

ada 3 cara mengelola emosi (sedona method)
1. Menahan (memendam)
2. Mengekspresikan (marah=banting piring, memaki dsb, sedih = menangis dsb)
3. Level tertinggi yaitu melepas / release", Arif Rahutomo


"Sebenarnya perasaan dan pikiran itu harus imbang menurut ku
saat yang dominan perasaan
segera aktifkan akal
begitupun sebaliknya
ketika akal terlalu dominan
aktifkan hati
nah aktivitas itu selalu ada residu
(ya yang sesak didada itu)
itu yang harus dibuang
bahagia pun kan sesak di dada
harus dibuang", lanjutnya.

Tuesday, November 17, 2009

Totto Chan

"Serahkan mereka kepada alam," begitu katanya. "Jangan patahkan ambisi mereka. Cita-cita mereka lebih tinggi dari cita-cita kalian." belum pernah ada taman kanak-kanak seperti itu di Jepang.

Dan Totto Chan membuat sejarah dalam penerbitan Jepang karena terjual 4.500.000 buku dalam setahun.

Tetsuko Kuroyanagi

Thursday, November 12, 2009

Pak Darmono dan Inspirasinya Tentang Ilmu

"Ilmu lebih utama daripada harta karena harta itu harus dijaga olehmu sedangkan ilmu akan menjagamu"

"Iya, saya percaya", Dengan merasa sok spiritualis, diiyakan saja deh, karena kayaknya kalimatnya bagus, dan betul itu adanya. Hm, lalu saya kok bertanya, bagaimana si cara ilmu menjaga kita?

Kan sudah jelas tuh bagaimana cara kita menjaga harta, yakni dengan membeli brangkas, dengan mengasuransikan mobil, menyewa satpam dan bla bla. Nah, apakah cukup penjagaan itu? Tidak, kita juga harus menjaga keterikatan harta dengan perasaan kita.

Bagaimana itu maksudnya? Begini, misal kita hanya punya harta 10.000 rupiah, maka apa yang terjadi ketika uang itu bertambah 5.000 rupiah? senang luar biasa. Lalu seandainya kita punya harta 1.000.000.000 rupiah, dan uang itu berkurang hanya menjadi tersisa 1.000.000 rupiah, nah apa yang kita rasakan? Sedih, hancur, luluh, stres, bunuh diri? Padahal 1.000.000 itu jauh lebih banyak dari 15.000 rupiah.

Lalu yang berikutnya, bagaiman sesungguhnya cara ilmu menjaga kita? Misal, seorang berilmu itu sedang down, apakah yang dia lakukan sama dengan yang dilakukan oleh orang yang berilmu yang sedang down pula? jawabannya : tidak. Ilmunya akan menuntun pikirannya untuk, "membaca buku ini agar...", "datang ke tempat ini maka kamu akan...", "atau "pergilah ke orang ini, dia bisa membantumu dengan...".

Ilmu yang kita miliki menjaga kita salah satunya dengan memberikan jalan-jalan solusi kepada kita.

regards

Rizky

Monday, November 9, 2009

Eko Laksono

Para pemimpin yang unggul bisa berbuat sesuatu yang unggul, karena mereka punya pengetahuan yang unggul. Visi, dihasilkan dari pengetahuan yang lebih banyak, lebih besar, dan lebih tajam dari orang kebanyakan. Dengan pengetahuan yang unggul, mereka tahu apa yang bisa dilakukan.


Kalau anda belajar tentang para pemimpin besar, Sukarno, Hatta, Gandhi, Napoleon, anda akan lihat mereka senang belajar dari para tokoh-tokoh besar dunia lainnya. Mereka juga belajar bagaimana membangkitkan bangsanya jadi bangsa besar, dengan belajar dari bangsa-bangsa besar lainnya. Sampai akhirnya mereka tahu caranya.


Dan anda betul sekali, para pemimpin terbesar, Gandhi, atau Muhammad Yunus, dan tentu Nabi Muhammad Saw, punya satu kesamaan. Mereka adalah pejuang, aktivis yang paling revolusioner. Mereka samasekali tidak pernah memikirkan jabatan atau kekuasaan. Mereka berjuang karena semata-mata mencintai bangsanya, dan karena perjuangan mereka adalah ibadah yang tertinggi. Itu yang membuat mereka paling istimewa.


Mereka bisa merubah bangsanya, bahkan hanya dengan kemauan yang kuat. Bayangkan, mereka tidak punya pemerintahan dengan ribuan pejabat dan aparat, tidak punya anggaran milyaran atau trilyunan, tapi mereka mampu merubah seluruh bangsanya. Sukarno-Hatta pun mempersatukan seluruh Indonesia tidak dengan anggaran bertrilyun-trilyun.


Jendral Sudirman, bisa mengalahkan militer Belanda dan Jepang yang modern, tidak punya anggaran bertrilyun-trilyun. Kecintaan mereka pada bangsanya jauh lebih kuat dari apapun. Jadi kalau anda juga mencintai bangsa ini, andapun akan bisa melakukan sesuatu yang besar.

Tuesday, November 3, 2009

Planet of The Appes

Kemarin habis nonton Planet of The Appes. Menarik, sangat imajinatif ASLI, sudah pastilah si sutradara bukan produk pendidikan Indonesia yang kalau nggambar semuanya nggambar gunung & yang kalau pag guru/dosen lagi ngobyek dikasih tugaas yang banyak (mana tulis tangan pula).

Bagi yang belum nonton, film ini mengisahkan tentang seorang astronot yang tedampat di sebuah planet dengan dunia dan waktu yang berselisih ribuan tahun dengan dirinya, dimana di planet itu manusia menjadi budak para kera. Bayangkan saja, ada gerobak yang narik manusia dan yang nyambukin kera (hm, bukankah di bumi sekarang juga seperti itu ya, monyet2 tukang korup berseragam dinas mencambuki pedagang kaki lima yang rajin ibadah dengan pedasnya, mengenaskan).

Salah satu bagian yang menarik di film itu adalah ketika sang astronot menyuarakan ajakan kepada manusia-manusia primitif itu untuk melawan bala tentara kera. Yah, karena saking lamanya, turun temurun tidak ada sejarah manusia bisa sejajar dengan kera di planet itu, maka si manusiapun semua gentar, takut untuk melawan. sampai sang astronot bilang, "hey, percayalah, sejarah kalian para manusia memiliki prestasi yang gemilang, yang menakjubkan", apalagi untuk sekedar melawan kera. Tapi tetap semua terdiam.

Yah, begini, bukan? kondisi kebanyakan kita saat ini. Karena kungkungan tradisi yang belasan tahun lamanya, sehingga tak ada siswa yang berani berkutik ketika dosen perlu dikritisi bahkan ditegur atau disalahkan. Begitu juga memprihatinkan, anak-anak tumbuh dewasa, tanpa pernah memiliki kesempatan untuk mengembangkan karakter pribadinya.

Disekolah dicekokin teori ini dan itu, di kampus dituang air pengetahuan yang nantinya juga tak tahu seberapa persen itu berguna, eh begitu wisuda masyarakat menjustisenya dengan begitu kejam, "kamu bukannya cari duit, malah...".

Akhirnya melamar kerja sekenanya, betah tidak betah diterima seolah merupakan takdir yang takbisa lekang darinya. Beberapa yang tidak betah berpindah ini dan itu, dengan seribu satu alasan, "disitu ilmuku nggak kepakai", "disitu tenagaku diforsir" sampai "disitu gajinya kurang".

Dan merekapun menua dengan satu perenungan yang tak pernha berubah, "sebetulnya apa si yang aku kerja dalam kehidupan ini?". Hm, akhir hayat yang mengenaskan bagi orang-orang yang seperti itu, semoga kita tidak termasuk.

Yah, pergilah dari dunia kita, menjelajahlah ke angkasa luas. Tak punya pesawat ulang-alik? Tidak perlu pesawat apapun untuk menerbangkan otak kita dalam galaksi imajinasi yang tidak ada batas dan sekatnya.

Kenapa kita harus menerbangkan pikiran kita? Agar kita tahu, tradisi-tradisi mana yang harus kita pegang dan tradisi-tradisi mana yang harus tidak kita percayai. Tanpa itu, kita hanya menjadi pecundang yang minta dihargai, yang tak pernah betah bekerja dimanapun, kecuali : dibetah-betahin.

Salah satu tradisi yang musti kita lepas dari kungkungannya adalah tradisi menakar usaha kita dengan hasil, tradisi membarter tenaga dan waktu kita dengan imbalan. Kita masih muda, masih punya kesempatan begitu luas untuk menempa karakter, tidak pantaslah kita "ngarani" seberapa kita harus dibayar, kalau kita sendiri belum paham apa sebetulnya potensi yang kita miliki, belum terbentuk karakter kita.

Sunday, November 1, 2009

Kenapa kita begitu mengagung2kan ego diri? : Karena kita tidak tahu



"Kesedihan adalah aktivitas mengasihani diri sendiri...",

Dari sekian banyak pelajaran dari perjalanan tak ternilai berangkat dengan KA Serayu dan pulang dengan KA Senja Utama Yogya adalah kata-kata Mario Teguh di atas.

Yah, kesedihan adalah aktivitas kita mengasihani diri sendiri. Aktivitas mengasihani orang lain akan menghasilkan energi positif untuk menolong, meringankan beban mereka.

Jadi bisa diartikan kesedihan adalah wujud betapa kita memperbudakkan diri pada ego kita, manut... aja pada ego. Sedih, kecewa, sakit hati dan semacamnya... jal si, jujur deh, bukankah itu adalah aktivitas dimana kita ingin diperhatikan, ingin dipenuhi kekarepannya?

Kita sebagai jiwa yang hebat? atau kita sebagai ego yang kemaruk coba?

Friday, October 16, 2009

The Power of Kepepet


Buku ini menjawab pertanyaan, kenapa bahkan orang yang tahu didepannya ada satu kegemilangan yang bisa ia raih, tapi kok ya nggak sukses-sukses juga? Pengibaratan yang sebenarnya sudah populer, tetapi inilah makna dari The Power of Kepepet, kalau kita ada di atas gedung kembar setinggi 10 lantai, dan di gedung seberang ada uang 1 Milyar sementara penghubung kedua gedung itu hanya sebatang kayu yang cukup untuk berjalan, maka bisa dipastikan kita hanya maju mundur, mikir, mikir dan mikir tanpa berani mengambil resiko menyeberang dan mengambil uang itu.

Tapi kalau dalam kondisi itu, seekor macan ada di belakang kita? tidak sampai 1 detik kita langsung lari tunggang langgang menyeberang, bebas dari macan dan dapat 1 milyar.

Lalu, bagaimana kalau 1 Milyar itu tidak ada, tetapi macan tetap siap menerkam? Ya sama, kita tetap lari. Yah, Impian hanya bisa mengarahkan, tetapi kepepetlah daya dorongnya. Impian kalo belum kepepet cuma akan jadi pemandangan indah yang bikin ngiler.

So, apa harus menunggu kepepet dulu baru bergerak menerjang resiko? Tidak, bukankan kita sudah tahu ilmu otak? Ya, dengan memanipulasi otak sadar kita, kita bisa membuat artificial kepepet atau pengkondisian psikologis kepepet. Kepepet buatan inilah yang akan mendatangkan energi untuk mendorong gerak maju kita.

Tapi, bagaimana cara membangun artificial kepepet itu? Saya masih memikirkan caranya, yakin dahsyat kalau ketemu.

PIXAR, Kisah Heroik Steve Jobs Merebut Kembali Apple Inc.


Jatuh bangun PIXAR, perusahaan animasi nomor wahid di dunia dibangun, bahkan setelah Steve Job Masuk, hampir 5 tahun dia hanya berkunjung 6 kali ke PIXAR. Walaupun kebesaran PIXAR secara teknis lebih diperankan oleh 2 partnernya, John Lasseter si ahli skenario dan Catmull si ahli grafis, tetapi harus diakui, berkat keberanian dan keputusan-keputusan besar Steve Job pula PIXAR yang Steve Job beli 10 juta dollar dan merogoh kocek pribadi Steve Job karena rugi mencapai 50 juta dollar ini akhirnya bernilai 4,7 milyar dollar ketika dibeli oleh Disney 16 tahun berikutnya.

Terlalu banyak hal menarik dari buku tipis ini. saya ingin share-kan 4 saja. Pertama : pernyataan PIXAR yang setelah kalang kabut selama hampir 10 tahun lamanya, yakni dari tahun 87 hingga 97 dan film pertamanya "Toy Story" Booming dan menjadi titik balik kebangkitan PIXAR, PIXAR bilang "Tidak ada teknologi yang bisa mengubah cerita jelek menjadi bagus." Tahu maksudnya?

Kedua : Seperti menari di atas ombak, PIXAR, juga NEXTstar, juga Apple, juga Disney selalu bergelut dengan dinamika dunia bisnis dan pergulatan dengan keputusan-keputusan besar, penting, berpengaruh dan harus cepat di ambil. Hm, saya tidak yakin semua keputusan CEO perusahaan-perusahaan itu selalu benar, tetapi saya percaya mereka bisa membawa perusahaan-perusahaan itu menjadi unggul karena mereka bertanggung jawab.

Ketiga : Seperti yang diajarkan Pa Jamil Azzaini dalam salah satu bab di proposal hidup, yakni Mastermind. Mastermind atau saya menerjemahkan bebas sebagai tim se-visi ternyata bukanlah cetusan Pa Jamil, tetapi sudah diajarkan sejak zaman Napoleon Hill yang legendaris. Yah, sama seperti Microsoft, Aplle atau Yahoo, PIXAR besar atas dedikasi sebuah tim, bukan individu.

Keempat : Anda tahu DOS, program komputer yang ditawarkan Bill Gates (sebelum sukses) kepada IBM adalah nama yang diceploskan spontan oleh Bill Gates saat rapat dengan petinggi IBM adalah istilah yang spontanitas diciptakan Bill Gates sendiri, bahkan 2 rekannya yang ikut rapat bersama juga baru tahu istilah itu saat itu. Begitu juga PIXAR, ini nama yang spontan diceploskan mereka.

Thursday, October 15, 2009

Selamatkan Bangsa!


Terlalu banyak hal yang mencengangkan mata membaca buku ini, betul-betul pembuka wawasan, dari 3 nasehat Bung Karno tentang bagaimana menyuburkan nasionalisme, maka membaca buku ini adalah cara saya menempuh nasehat kedua, yakni menyadari realitas gelapnya masa kini.

ya, keterpurukan bangsa kita bukan nasib, tetapi ulah pemerintah kita sendiri. kenapa bangsa sekaya ini mengobral dirinya sendiri? betul-betul bangsa yang tidak pe de, dan betul betul pemerintah yang egois, materialis, hedonis.

Tuesday, October 13, 2009

THE SAMURAI LEADER

Satu
-Saat anda melakukan pekerjaan terbaik, maka hal itu akan tampak mudah!
-Pegawai dapat menjadi peniru

Dua
-Beberapa manajer mempertahankan reputasi dengan menjadi tak terpercaya
-Pesaing, internal maupun eksternal, harus diberitahu bahwa tidak ada yang dapat direbut dari Pemimpin Samurai tanpa pertempuran hebat--bahkan untuk hal kecil.Predator agresif akan mencari mangsa lain yang lebih mudah
-Ingatlah manajemen 101! Pahami dasarnya dengan tepat

Tiga
-Pemimpin Samurai tidak akan pernah membiarkan persoalan mengacaukan performa terbaik mereka
-Ingatlah, hanya andalah yang dapat mengacaukan karir Anda!

Lima
-Pada tingkat manapun dalam organisasi, semua orang dapat sangat berguna--mereka akan dapat membantu jika Anda juga membantu mereka!
-Semakin banyak kekuasaan yang dilepaskan seorang manajer secara efektif, maka semakin banyak kekuasaan yang dimilikinya
-Jika tiba saatnya bertindak, kerangka pemikiran setiap orang harus dipusatkan pada SEKARANG!

Enam
-Bertemanlah dengan para guru

Tujuh
-Terkadang, adalah bijak untuk bertanggung jawab atas kesalahan tim
-Kombinasi gairah dan kemampuan andalah yang menjadikan anda berkualitas secara unik

Delapan
-Untuk mencapai kesuksesan besar, rekasaya ulang mimpi Anda

Monday, October 5, 2009

Mas Andri Maadsa

Waktu itu saya masih ingat, Mas Andri yang trainer nasional luar biasa spektakuler dan memukau itu menyampaikan ke peserta trainingnya "sabar atuh bu.... belajar mah pelan-pelan, ini si ibu mah sewot saja... ikuti dulu, nanti baru ngerti semuanya", begitu dengan nada sewot yang dibuat2 dengan bcanda...


Yah, peserta trening tuh maunya langsung ngerti, paham aja, nggak telaten mendengarkan kata demi kata, slide demi slide, sesi demi sesi pelatihan.


Heumh, begitulah kita seringnya, ketika mendapati buku tebal, inginnya baca 1 halaman njur udah ngerti semuanya. Begitu juga ketika search google, baru baca 1 artikel pengennya dah paham sepenuhnya. Begitu juga saat menulis, pengennya nulis 5 menit dan jadilah tulisan panjang yang bagus dan berisi.


Menuntut ilmu juga harus sabar. sabar, sabar, sabar... rasakan sensasi di hati kita ketika kita berhasil sabar, satu sensasi yang tak terlukiskan

Friday, October 2, 2009

The Last Samurai

Entah untuk keberapa kalinya saya memutar film "The Last Samurai"nya Edward Zwick. Selalu saja ada pelajaran yang berbeda-beda. Wah, terlalu banyak yang mengesankan dan menginspirasi. 

Salah satunya, ketika sedang berlatih samurai, Kaptel Algren yang diperankan oleh Tom Cruise mendapat kesempatan bertanding dengan Ujio, Adik Katsumoto. Beradu pedang yang diganti dengan kayu, awalnya ia kalah dalam 3 pukulan. Lalu di sesi kedua dia kalah, kali ini keadaan lebih baik, dalam 5 pukulan. 


Lalu Algren-San, begitu orang-orang Samurai memanggilnya tiba-tiba teringat nasehat yang ia terima saat berlatih bertarung sebelumnya, "jangan berpikir."


Yah, ketika diterapkan nasehat itu, ternyata dahsyat. Dengan tidak berpikir, dia bisa "seri". Berpikir memiliki arti yang berbeda dengan "berpikir", meski keduanya sama-sama kata kerja. Berpikir maupun "berpikir" merupakan aktivitas yang dilaksanakan secara bersama-sama di dalam jiwa kita. bedanya, kalau berpikir yang memimpin aktivitas itu adalah "alam sadar", sedangkan kalau "berpikir" yang memimpin adalah alam bawah sadar.


Bayangkan, betapa payahnya kita dalam bertarung, atau mengerjakan hal apapun kalau alam sadar begitu mendominasi, rasa takut, merasa ditonton, cemas dan segudang perasaan "jangan-jangan.." lainnya hanya akan mengendurkan energi kita. Oleh karena itu, jangan berpikir.


Tetapi tetaplah "berpikir", hanya dengan "berpikirlah" kita bisa meraba hikmah menerawang kebijaksanaan baru untuk pupuk pohon kedewasaan kita.


Caoo...

Sunday, September 20, 2009

KCB 2

Kyai Luthfi, ayahnya Anna menolak saat diminta mengisi tausiyah pernikahan di tasyakuran pernikahannya Azzam. "Bagaimana mungkin seorang yang anaknya gagal dalam pernikahan bisa memberi nasehat di pernikahan orang lain".

Mengajari dengan hati


Merah Putih


Keperwiraan anak muda jaman dulu dan sekarang sangat.beda jauh. Yah, dari film merah putih saya jadi paham, bagaimanapun jaman sekarang lebih baik dari jaman dulu, penjajah begitu kejamnya.

Walau agak mengambang, tetapi banyak pesan-pesan kehidupan di film itu. Ketika pasukan tinggal tersisa 4 orang, letnan bingung ketika ditanya apa yang akan mereka lakukan, sehingga letnan menjawab "aku tidak tahu"... lalu salah satu anggota mengingatkan pelajaran yang dia dapatkan dimasa pendidikan dulu, bahwa seorang pemimpin boleh mengatakan apa saja, kecuali mengucapkan "tidak tahu".

lalu, anggota yang menasehati sang letnan itu dibalas oleh letnan, "kenapa tak kau saja yang menjadi pemimpin?", lalu ia menjawab, "kalau saya yang menjadi pemimpin, siapa yang akan menasehati saya?"...

akhirnya, mereka beristirahat semalam, di atas perbukitan, menghindari kejaran Belanda, tidak lupa menunaikan sholat. Sekalipun belum menemukan jawaban pasti apa yang harus dilakukan di tengah terbatasnya personel dan terbatasnya amunisi, mereka akhirnya tetap bergerak, turun gunung, menuju desa dan merumuskan siasat atas dasar fakta2 yang mereka temui.

Dan akhirnya mereka berhasil membombardir sepasukan Belanda. Menang!!!

Friday, September 18, 2009

Wall-E & Eve


Hidup kalau terlanjur kaya apa enak ya? Walau bumi rusak, bisa di luar angkasa bertahun-tahun, tidak perlu kemana-mana karena ada kursi super canggih, ada robot yang meyanani bahkan untuk mengganti baju dan mengambilkan minuman, ada hologram yang memungkinkan kita tidak perlu mententeng monitor kemana-mana.

Wah, kayaknya lebiih enak hidup kayak gini deh... tidak semuanya terpenuhi, tidak selamanya mudah, tetapi ganti demi bergantinya waktu memberikan makna tersendiri.... makna kehidupan.

Wall-E, sangat mengesankan kau. Eve.. cantik kau... Hijaukan bumi untuk generasi masa depan kita

Saturday, September 12, 2009

Kompasiana Lagi

http://public.kompasiana.com/2009/09/12/orang-yahudi-heran-banyak-muslim-tinggalkan-sunnah-nabinya-sendiri/

Thursday, September 10, 2009

Valkyrie


Valkyrie adalah nama pasukan cadangan Jerman yang akan diaktifkan bila terjadi sesuatu dan lain hal pada Hitler di zaman Nazi dulu.

Hitler, jahat, diktator, sadis pula, pantas saja banyak yang membenci dia dari seluruh dunia. Tapi, di dalam pasukannya, di dalam Jerman, di film yang diangkat dari kisah nyata ini, ternyata juga banyak yang membenci. Makanya banyak pemberontakan, Kolonel Stauffenberg bersama 15 orang tokoh penting dalam jajaran rezim Hitler merupakan pemberontakan terakhir yang ingin menggulingkan Hitler.

Yah, kudeta, sekalipun gagal, kudeta yang dilakukan stauffenberg dan rekan-rekan tidak terhenti, mencoba lagi, mencoba lagi. Hingga akhirnya bom meledakkan rapat yang dipimpin Hitler, dan disebarlah berita ke seluruh Jerman bahwa pemimpin tertinggi mereka telah tewas, seiring dengan itu diaktifkanlah pasukan Valkyrie di bawah komando Stauffenberg.

Sayang di sayang, baru beberapa jam pasukan diaktifkan, perebutan kekuasaan dan penangkapan orang-orang pro Hitler harus terhenti karena dari kediaman pribadi Hitler dikabarkan bahwa dia belum tewas. Maka, kudeta gagal, satu persatu orang meninggalkan Stauffenberg.

Tapi tidak semuanya, tetap ada orang-orang yang setia, mereka orang-orang yang memahami idealisme Stauffenberg. Akhirnya 15 orang itu dieksekusi mati, ada yang ditembak dan ada yang digantung. Hitler gagal digulingkan, nyawa mereka malah yang melayang.

Lalu, 9 bulan kemudian  Berlin dikepung musuh, Hitler bunuh diri. Salah satu hal menarik dari film ini adalah, bahwa Stauffenberg dan kawan-kawannya tidak bergeming, mereka tetap bangga walaupun gagal. Karena memang tujuan mereka sederhana, mereka ingin dunia mengenal bahwa, Jerman, tidak semuanya seperti Hitler.

Indonesia kapan punya Stauffenberg? semua orang ditekan untuk masuk dalam skenario penghisapan uang rakyat dengan dimandori barat, yang tidak sepakat didepak, yang berbahaya disingkirkan. Siapkah saya jadi Stauffenberg?

Wednesday, September 2, 2009

Wiwit KTH

Hari ini aku copy doa dari status Facebooknya

"Yaa Allah! Sucikanlah diriku dari kekotoran dan kejelekan. Berilah kesabaran padaku untuk menenima segala ketentuan. Dan berilah kemampuan kepadaku untuk bertaqwa, dan bergaul dengan orang-orang yang baik dengan bantuan-MU,Wahai Dambaan orang-orang miskin."

dia sahabat yang baik, alim lagi. biarpun cerewet awalnya, tapi aku banyak belajar dari dia. Bayangkan, sampai tuker2an diary, haha, kayak soulmate aja... . Tapi aku tahu dan dia juga tahu, tidak ada niat terselubung diantara hati masing-masing kami.

Dia tulus jadi sahabat saya,
pendengar yang baik, biar cerewat tapi jarang menyela dan terlihat malas mendengar saat kucurhat.
penasehat yang baik, cara mengingatkankunya begitu lembut, sampai2 aku nggak kerasa lagi dinasehati.
penjaga yang baik, menjagaku untuk tidak melakukan perbuatan yang melenceng tanpa aku merasa terbatasi.
sangat toleransi, bahwa pemahaman agama setiap orang beda2, termasuk aku yang masih dangkal, maka sikapnya tetap membuatku nyaman sharing dengan bahasaku, maupun menanggapi tanpa aku merasa dihakimi.

semoga sukses studymu, dan bahagia bertemu dengan jodohmu. dan semoga silaturahmi kita tetap terjaga.

Saturday, August 29, 2009

Perempuan Berkalung Sorban

Film yang kontroversial, mengangkat pesan yang berat dan bisa multitafsir bahkan salah tafsir bila penontonnya tidak cermat atau tidak dibekali dasar pemahaman yang memadai. Saya tidak bermaksud mengupas film ini. Satu adegan yang bagi saya berkesan, ketika itu Annisa sang pemain wanita kepergok berdua-duan dengan mantan kekasihnya oleh suaminya. Ditariklah keluar dari gubuk dan berkerumunlah para santri. Kerudung yang terlepas menjadi bukti perselingkuhan itu, akhirnya sang suamipun memprovokasi semua yang datang berkerumun untuk menghukum mereka berdua.

Dilemparilah dua orang itu dengan batu-batu, setelah beberapa lama Nyai, ibunda Annisa menghentikan itu dan menuju tengah kerumunan. Ia mengambil salah satu batu dan menatap tajam semua yang hadir "Hanya orang yang suci tidak punya dosa, yang boleh melempari mereka!".

Sontak, semua terdiam.

Ya, saya setuju dengan Nyai yang diperankan oleh Widyawati itu "hanya orang yang suci tidak punya dosa, yang boleh menghakimi saudaranya materialis, populis, tidak punya naluri berbagi, atau apapun itu..."

Sunday, July 12, 2009

Prabu Parikesit

Saya ingin cerita bagaimana feodalisme kepemimpinan itu berasal. Konon, Parikesit sang putra Abimanyu dan cucu Harjuna ini adalah seorang raja yang sangat bijaksana. Saking bijaksananya, setiap penderitaan dari satu warganya akan menjadi gundah-gulana di hatinya.

Begitulah, betapa hebatnya pemimpin yang satu ini, detail demi detail personal warganya ia perhatikan. Betul, ini dirasakan sangat oleh rakyatnya, akibatnya, rakyat menjadi kagum dan hormat padanya. karena itulah derajat raja menjadi sangat tinggi ketimbang rakyat, karena memang rakyat tahu diri betapa besar pengorbanan sang raja, betapa peduli yang luar biasa rajanya.

Begitulah kenapa raja menjadi mendapat semacam derajat yang lebih tinggi, fasilitas yang bagus dan kemudahan dalam segala hal tentang materi. Dan rakyatpun demikian legowo nya menerima ini.

Lantas bagaimana dengan pemimpin kita hari ini, seberapa peduli mereka pada rakyatnya? jangankan rakyat yang jauh, rakyat yang dekatpun yang masih satu kota, bagaimana sikap pemimpin kita terhadap mereka? Nah, sudah berkebalikan bukan dengan sang parikesit?

Tapin anehnya, feodalisme tetap mereka paksakan, bahwa harus ada sirine berbunyi ketika sang pemimpin melintas, bahwa makanan dan kebutuha hariannya bertriliun dalam setahun, bahwa harus disterilkan berkilo-kilometer kalau sang pemimpin ada acara.

kendaraan supermewah, perjalanan studybanding supernyaman dan penghormatan wajib haruslah diberikan rakyatnya. itulah cermin pemimpin yang mengemis pada rakyatnya, berkebalikan dengan Parikesit.

Parikesit.

Monday, June 22, 2009

Arif Rahutomo


Ada empat musuh-musuh paling serem untuk manusia, salah satunya adalah Riya. Tipis sangat batasnya. Wah, seperti selasa sebelumnya, nanti saya harus online di Mafaza FM. Kalau niat saya untuk didengarkan seseorang, alangkah buruknya itu. Tapi tidak, niat saya untuk memberikan kemanfaatan.

Dari sekedar temu OSIS, berapa yang terinpirasi hingga motivasinya terpatri, begitu juga Sukses Ujian Nasional atau Matematika Dahsyat.

Niat saya bukan menampilkan diri, niat saya menebarkan manfaat.

Pelajaran Makan dari Hilmy

Ramadhan tahun lalu, Hilmy sakit sebulan lebih lamanya. Berat badannya susut entahberapa belas kilo saya tak mengukur. Tapi yang jelas, badannya mengurus seperti bandar narkoba kelaparan di pulau terpencil hingga akhirnya dia memakan narkoba-narkobanya sendiri (perumpamaan yang aneh).

Namun demikian, semua orang menganjurkan Hilmy untuk banyak makan, mulai dari bubur purimas sampai bubur kertas. Ya, agar berat badannya menormal lagi tentunya. Sebagai sahabat yang baik, tentu rasa empati sayapun muncul, sayapun mengimbanginya untuk banyak makan pula.

Kurang baik apa coba saya, empati kan? Saking empatinya ketika Hilmy sudah menormal lagi berat badan dan tingkat kegemukannya. Eh, tetap saja saya doyan makan sampai-sampai saat ini porsi makan saya hampir menyaingi Huda. Kecepatan makan saya hampir menyalip Cryo. Ha2..

Pantas saja petugas asuransi bingung ketika meng-underwriting saya, dan sayapun bingung menjawab ketika di kolom berat badan, tahun ini saya bertambah 7 kilo. Saya jawab saja : gara-gara Hilmy Pa... huehe... piss

Banyak-banyak makan jangan bersuara, asal jangan pilih indomie...

Thursday, June 18, 2009

Jamil Azzaini

Beliau pernah bilang, jangan pernah remehkan kesuksesan-kesuksesan kecil, prestasi atau apapun di masa lalu kita. Akumulasi dari semua itulah yang akan mengantarkan diri kita menjadi seorang masterpiece, seorang yang spektakuler.

Betul! sependapat, karena sejatinya diri kita memang luar biasa, makhluk sempurna dengan nilai : tak ternilai.

Tugas kita yang pertama-tama, hanya diminta untuk : meyakininya.

Ustadz Muhibbin


Salah satu khatib keren Masjid Perumahan "Baitul Arqom" yang tiap rabu malam ba'da maghrib berbagi pencerahan ilmu. Kalau dulu saya tau dari Pa Purdi, sekarang saya dapat info dari beliau.

Info untuk apa mas? Info untuk jangan jadi PNS.

Kenapa jangan? Alasan pertama, menurut Pa Purdi : PNS masa depannnya jelas, ya, jelas begitu-begitu aja. Waktu tersita, jarang ketemu uang dan susah kaya raya kalau hanya mengandalkan gaji.

Nah, ini yang lebih menyeramkan, kata ustadz muhibbin : Orang Indonesia itu lupa kalau PNS itu jabatan, jabatan kepemimpinan negara dalam level yang mungkin lebih rendah dari presiden. Tapi jabatan tetaplah amanat, betapa tersesatnya kita kalau memburu jabatan. Jabatan itu tidak diburu, tapi dibebankan oleh negara kepada kita, dengan penunjukkan.

Jadi, satu tanda kekeliruan bahwa jadi PNS yang di dalamnya mengandung amanat kok jadi rebutan. Dan, jauh lebih sesat lagi dan teramat sangat sesat sekali kalau jadi PNS hanya memburu gaji, sementara pekerjaannya tidak becus, tidak bisa melayani public dengan cekatan.

Like Dinas-Dinas Pendidikan pada umumnya, kata saya.

Aristoteles, Bapak Ilmu Pengetahuan


Without friends, no one would choose to live, though he had all other goods.
(Kalau anda tidak punya sahabat, walaupun anda punya semua harta, apa artinya hidup?)- Aristoteles


Socrates adalah gurunya Plato,
Plato adalah gurunya Aristoteles,
Aristoteles adalah Gurunya Alexander The Great

Kata Genta di 5 cm, Socrates hobinya duduk-duduk di alun-alun, bertanya ke orang, bertanya dan bertanya,

dan dia tidak pernah menulis.

Saturday, June 13, 2009

To be Continued sich...

Mendahulukan orang lain dalam hal ibadah, makruh hukumnya.

Dan 3 Aspek yang masuk dalam pertimbangan : Agama, Ilmu dan yang tak kalah penting adalah Cinta

Wednesday, June 3, 2009

Tijitibeh

Pangeran Diponegoro nama aslinya adalah Raden Mas Ontowiryo, lahir di Yogyakarta tanggal 11 Nopember 1785. Ayahnya Sultan Hamengku Buwono III mengangkatnya sebagai raja, tapi Pangeran Diponegoro menolak dengan alasan karena ibunya bukan permaisuri.

Ditahun 1820-an kompen Belanda sudah memasuki dan mencampuri urusan kerajaan-kerajaan Yogyakarta. Peraturan tata tertib dibuat oleh pemerintah Belanda yang sangat merendahkan martabat raja-raja Jawa. Para bangsawan diadu domba. Tanah-tanah kerajaan banyak yang diambil untuk perkebunan milik pengusaha-pengusaha Belanda.

Melihat kondisi seperti itu, Pangeran Diponegoro merasa tidak senang, lalu meninggalkan keraton dan menetap di Tegalrejo. Lucunya Belanda menuduhnya menyiapkan pemberontakan. Tanggal 20 Juni 1825 pasukan Belanda menyerang Tegalrejo dan dengan demikian mulailah perang yang dikenal dengan nama Perang Diponegoro (1825 - 1830). Setelah Tegalrejo jatuh, Pangeran Diponegoro membangung pusat pertahanan di Selarong. Lalu perang dilancarkan secara gerilya. Belanda kewalahan karena sulit dihancurkan dan Belanda mengalami kesulitan.

Beberapa tokoh perlawanan dibujuk oleh Belanda sehingga mereka menghentikan peperangan. Sejak tahun 1829 perlawanan semakin berkurang, tapi masih berlanjut terus. Belanda mengumumkan akan memberi hadiah sebesar 50.000 golden kepada siapa saja yang dapat menangkap Diponegoro.

Pasukan dan kekuatan Diponegoro melemah, tapi ia tidak pantang menyerah. Karena Belanda tidak berhasil menangkap Pangeran Diponegoro, lalu Belanda menjalankan cara yang licik yaitu dengan cara mengundang Pangeran Diponegoro untuk berunding di Magelang tanggal 28 Maret 1830, tapi Diponegoro malah ditangkap dan dibuang ke Menado, kemudian dipindahkan ke Ujungpandang.

Pangeran Diponegoro meninggal duni di benteng Rotterdam Ujungpandang, pada tanggal 8 Januari 1855 dan dimakamkan disana.

Quote beliau :

“Sadumuk bathuk, sanyari bumi ditohi tekan pati”

tijitibeh "mati siji mati kabeh"

Dengan penambahan : http://www.jagoan.or.id/

menurut anggapannya ini baik, mungkin...


Dalam suatu kesempatan, saya disadarkan dengan agak sedikit menyentakkan hati oleh seorang sahabat dekat yang sangat saya hormati.

Sehingga saya tersadarkan bahwa selama ini saya hanya berusaha menjadi sahabatnya, namun sedikit yang saya lakukan untuk juga menjadi sahabat dari sahabat-sahabatnya. Bahwa selama ini secara tidak sadar, jika tidak ingin disebut tidak begitu peduli, saya hanya merasa cukup jika sudah menjadi sahabatnya - tanpa mempedulikan apakah saya masih perlu menjadi sahabat dari sahabat-sahabatnya.

Egois, ya kata itu yang terlintas dibenak saya sejak semalaman.

Saya terlalu egois untuk tidak memikirkan bagaimana caranya agar saya tidak hanya menjadi sahabat baginya, namun juga menjadi sahabat bagi teman-temannya, saudaranya dan keluarganya.

Padahal, Sahabat kita akan berkurang jika kita tidak menambah sahabat-sahabat baru.

Cobalah kita ingat berapa banyak sahabat kita sewaktu kita kecil, sewaktu kita sekolah, yang masih kita ingat ? Saya hanya ingat bahwa jumlahnya banyak, tanpa mampu mengingat dengan benar sebagian besar nama-nama sahabat saya dulu. Apalagi menghitung berapa banyak dari mereka itu yang tetap menjadi sahabat saya sekarang ? hasilnya hanya segelintir saja sahabat waktu sekolah dulu yang masih berhubungan dengan saya, itupun kami sudah lebih dari 2 tahun tidak bertemu muka langsung.

Tidak jarang kita-pun merasa enggan untuk bersahabat dengan teman-teman dari pasangan kita ? Karena merasa mereka adalah teman-teman masa lalu pasangan kita, yang tidak perlu kita dekati dan sahabati.

Jadi akankah saya nanti tidak memiliki sahabat lagi ?

Jawabannya tidak... karena akan awali hari ini dengan mulai kembali mencari sahabat sebanyak-banyaknya, mensahabatkan diri ke sahabat dari sahabat saya, saya akan hubungi teman-teman lama saya, saya akan lakukan apapun untuk menambah sahabat disekeliling saya.

Para Sahabat,

Izinkan saya mengutip kalimat-kalimat yang disampaikan oleh Pak Mario Teguh, bahwa :

Persahabatan adalah penjamin kualitas kebersamaan
Seorang sahabat tidak memiliki kepentingan lain dari kita,
kecuali membantu kita menjadi pribadi yang berbahagia dengan pilihan-pilihan baik kita
Seorang sahabat adalah seorang rekan yang mengenal lagu-lagu keberanian di hati Anda,
dan yang kemudian dengan penuh kasih menyanyikan lagu-lagu itu saat Anda berkecil hati

Setiap orang mungkin bisa mendengar yang Anda katakan,
tetapi sedikit sekali yang betu-betul mendengarkan,
dan hanya seorang sahabat yang mampu mendengar yang tidak Anda katakan.
Dan dengannya dia memberikan - bahkan yang tidak Anda minta.

(MTST - Becoming Your Best Friend)

Sunday, May 31, 2009

Mengubah ketakutan menjadi optimisme

Tua itu pasti, dewasa itu pilihan. Lah kalau mati? Mati itu belum tentu menunggu tua. Yang jelas kematian itu spektakuler, sama seperti kematian di alam rahim, atau sama dengan kelahiran kita di alam dunia. Setiap manusia pasti mengawalinya dengan menangis.

Setelah kematian datang, bukan berarti sehari-hari kita berada di atas kuburan, bermain di pohon kamboja ata duduk-duduk di atas nisan. Seperti apa keadaan dan dunia kita bergantung pada amal kita. Wallahualam, semoga Allah ampuni dosa-dosa saya.

Amat menakutkan ketika diputar video kehidupan saya, ketika saya beruat ini dan itu, ketika orang-orang yang saya aniaya menuntut balik saya, menendang saya, menampar saya, tidak mau lagi jadi sahabat saya. Semoga ada cara, kesempatan dan kemampuan untuk memperbaiki itu.

Harus punya ilmu ikhlas, agar tidak sakit ketika ruh ini diminta meninggalkan jasad. Seperti seorang yang diajak pindah dari rumah butut ke istana, pasti tak perlu di paksa, dengan rela dia akan mau meninggalkan rumah itu. Tapi kalau kita pandang dunia seperti istana dan alam sesudahnya sebagai penjara, maka kita akan bergelantungan di istana tak mau diajak keluar, tak mau tetap tak mau, hingga malaikat mautpun mengajak dengan paksaan. Mungkin ini yang membuat kematian begitu menyakitkan tak terperi.

Ya Allah ringankan sakaratulmautku, berikan maghfirah sesudahnya. Begitu juga untuk keluargaku, amin...

Saturday, May 30, 2009

jalan terdekat antara dua titik adalah garis lurus... .

Ibaratnya ada dua titik, titik pertama adalah kondisi kita hari ini. Titik kedua adalah kondisi yang kita impikan. Mencapai impian, secara saintis sederhana saja formulanya :

1. Formula Garis Lurus
Ya seperti di judul, antara dua titik, jarak terdekatnya ya garis lurus.
2. Formula Visi Jelas
Menunjuk sasaran dengan mata terbuka lebih mudah daripada dengan mata tertutup
3. Formula Perhatian Terfokus
Apa hebatnya menyediakan 15 sasaran untuk kita tembak kalau ditargetkan kena cuma satu. Fokus, seperti bermain windows, nggak ada dua aplikasi atau lebih yang bisa dijalankan bersamaan, selain word dengan winamp.
4. Formula Energi Terfokus
Ibarat menggali sumur, percaya saja pada kedalaman x akan keluar mata air. Jadi jangan berhenti sebelum ketemu tuh mata air
5. Formula Aksi-Reaksi yang Tak Terhindarkan
Tindakan kita hari ini akan berbuah baik atau jelek di masa depan. Sesuai.

klik www.freewebcockpit.com

Tuesday, May 26, 2009

5 cm

Membayangkan nanti gimana ya kalau sudah pada punya anak... Kalau anak saya, cwo' Azkha, Cwe' Annisa, berikutnya dipikir nanti lah, kalau bisa depannya A semua (biar kalau diabsen cepet)

Dari 5 cm, jadi paham, kalau memang kita butuh lebih dari sekedar petualangan, untuk menjadi seorang pria sejati.

"yang bisa dilakukan seorang makhluk bernama manusia terhadap mimpi-mimpi dan keyakinannya adalah mereka hanya tinggal mempercayainya"