Tuesday, April 26, 2011

Bacakilat


Buku yang bagus, penulisnya Agus Setiawan menyelipkan tiket seminar gratis di dalamnya. Entah, benar2 100% gratis atau seperti UTHB yang katanya gratis tapi wajib membeli paket seminarkit 350.000.

Obrolan dengan Mas Arif, Mas Harba dan Hilmy kemarin seolah menjadi prolog aku membaca buku ini. Tentang teta-healing, tentang berkembangnya teknologi internal yang dirintis oleh kalangan tasawuf modern dan tentang konspirasi islam trans-nasionalis, yang nampaknya murni tapi ternyata penuh dengan pendangkalan dan pembonsaian.

Loh, apa hubungannya buku tentang teknik membaca dengan semua itu? Ya, bagi orang yang hanya ingin mencari teknik, belajar tentang fiqh membaca dan antipati dengan dunia hakikat termasuk hakikat membaca, tentu semua itu tidak ada hubungannya. Tapi aku membaca buku ini dengan nawaitu bisa mengelaborasikan sejumlah makna yang ada di ujung tanduk akalku saat ini.

Menarik, Mas Arif menyampaikan nasehat dari Ki Nur kemarin : berhentilah belajar. Bagi orang saklek ini akan dimaknai tekstual dan refleknya pastilah penentangan, tapi tidak bagi orang seperti mas Arif dan karena Ki Nur tahu Mas Arif orang seperti apa makanya dia mau menasehatkan itu, maksudnya adalah mem-break sejenak asupan-asupan dari luar, untuk mengelaborasikan ilmu apa-apa yang sudah di dalam diri kita.

Ini adalah salah satu point bahasan di Buku Bacakilatnya Agus Setiawan, bahwa dari seluruh proses belajar 98-99%nya dilakukan oleh bawah sadar. Artinya alam sadar memang ada pada quota 1-2% saja, pantas saja kadang kita baru membaca sedikit, mengaji sedikit sudah merasa penuh, sudah merasa sesak penampungannya, itu terjadi karena kita mengabaikan fitur bawah sadar kita, jadinya mau dipaksa bagaimana juga alam sadar ya mampunya menyerap segitu.

Kalau masih bingung dan ingin tahu lebih lanjut maksudnya, silahkan baca sendiri bukunya, mantaplah. Ini pinjam punyaku juga boleh, tidak harus beli.

Hal menarik kedua di buku ini diantara sekian banyak hal menarik lainnya adalah bahwasannya proses belajar itu ada dua, pertama proses memformulasi apa-apa yang sudah ada di dalam diri, dan kedua proses menyerap informasi dari luar. Nah ini, inilah, kita informasi dilahap terus, tapi begitu sudah tertampung seperti gudang, berantakan tak pernah ditata dan tak pernah di adon, pantas saja belajar ribuan buku jutaan kali pengajian kok IQ masih segitu-segitu saja.

Coba, berapa banyak hal berharga di dalam diri yang terabaikan, tidak terelaborasi satu sama lain, padahal otak yang memiliki 1 triliun sel syaraf memiliki potensi keterhubungan satu sama lain antara dua sel saja adalah 2 pangkat 28 jalur hubungan, bhaayaangkaaaan itu....

Ini juga yang jadi bahan berpikirku, kalau orang-orang Islam fundamentalis saat ini takut menggunakan akalnya, hanya menampung informasi dari hadits2 shahih dan ulama pilihan, dan antara yang shahih2 itupun tidak dielaborasikan satu sama lain, hanya dimaknai sebatas texbook, betulkah itu artinya sudah kembali ke generasi salafus shalih?

Padahal siapakah generasi salafus shalih itu? Mereka adalah generasi abad ke 2-3 Hijriah. Siapakah generasi abad ke 2-3 hijriah itu? Mereka adalah penemu-penemu besar di hampir semua disiplin ilmu yang kemudian dijiplak dan dicuri barat.

Agus Setiawan menjelaskan, bahwa tidak mungkin akan ada penemuan, kalau tidak ada proses belajar yang mengelaborasikan ilmu-ilmu internal itu. Monggo direnungkan.... jangan merasa paling benar, tidak mungkin keliru.

Di buku itu juga menjelaskan sekilas tentang BELIEF, belief itu adalah keyakinan diri akan prinsip hidup. Aku baru tahu bahwa ternyata seseorang itu menyaring masukan informasi bukan berdasarkan benar dan salah, tapi berdasarkan mendukung atau menentang beliefnya. Nah loh, kalau beliefnya hasil doktrinasi dan cuci otak, lah gawaat...

Kalau sisi lemah buku ini, dua diantaranya : Pertama, teknik Bacakilat yang dijelaskan menggunakan proses hipnosis umum, nah inilah kelemahan penulis menurut pendapatku, penulis memukul rata bahwa sugestibilitas setiap orang sama, makanya katanya dasar penentu keberhasilan Bacakilat adalah pada sungguh-sungguh ingin bisa tidaknya menguasai teknik ini.

Dia lupa bahwa setiap orang itu memang bisa tersugesti masuk dalam kondisi hipnosis di gelombang alfa bahkan teta, tapi tidak semua orang caranya itu sama. Seperti aku ini, aku susah untuk mempan dihipnosis dengan cara umum kebanyakan hypnoterapi, alhamdulillah sedikit2 aku tahu caranya menghipnosis diri sendiri. Ada deh..

Jadi saranku, penulis belajar lagi tentang ragam teknik masuk ke zona hipnosis atau meditatif, jangan di babral rata pakai script hipnosis yang "lebih nyaman... lebih nyaman... dan setelah memejamkan mata 10X anda merasa lebih nyaman...", tidak semua mempan dengan script itu.

Kedua, sepertinya penulis bukan seorang muslim, sebetulnya materi yang disampaikan tidak lebih dari turunan Al Quran dan Hadits, seandainya Al Quran dan Hadits dilibatkan, makin mantap dan mendalamlah buku ini.

Tapi bagaimanapun, terima kasih mas Agus Setiawan, semoga Allah berkenan mempertemukan kita dalam seminar Bacakilat, kalau bisa si di Semarang apa Purwokerto dan harus benar2 gratis 100% ya.

Sunday, April 17, 2011

Emha Ainun Najib

Memahami Cak Nun, tidak bisa dengan satu atau dua pernyataannya. Menghakimi Cakn Nun, tidak bisa dengan sekali mengikuti pagelarannya. Saya mengenal Cak Nun pertama dari Slide, slide yang dibawakan oleh Ary Ginanjar.

Saya mengenal Cak Nun kedua dari Majalah, majalan yang dibawa oleh sahabat terbaik saya. Disitulah saya mengenal prinsip tauhid dan aqidah beliau. 

Saya mengenal Cak Nun ketiga dari buku-bukunya, ada "Kiai Bejo", ada "Demokrasi Laa Roibafih", ada apalagi itu lain-lainnya.

Selanjutnya saya mengenal Cak Nun dari pertemuan yang sering diistilahi orang sebagai Maiyahan, Mas Nanang seorang dari Komunitas Blogger Tidar Magelang yang menunjukkan adanya acara ini, lengkap dengan alamat dan rute untuk menujunya.

Cak Nun berbeda dengan kalangan Islam fundamental, yang mereka damai dalam tameng bernama amalan agama, sementara spiritualitasnya kosong. Tandanya apa? Tandanya katanya mereka alim, tapi merasa paling benar, tapi menganggap yang lain dan berbeda dengan mereka lebih rendah.

Cak Nun juga berbeda dengan Trainer, yang tampil memukau dengan menjual agama.

Cak Nun berbeda dengan kaum filosof, yang banyak berbicara kebajikan dan nilai-nilai, tapi praktinya low.

Cak Nun juga berbeda dengan kiai tarekatan dan sebangsanya, karena dia mengkritik adana formalisasi kelompok tasawuf  maupun kelompok tarekat.

Lah, tadi malam kok ada mahasiswa semester 6 fakultas agama islam universitas besar di jogya, ketua IMM pula yang naik panggung menggugat Cak Nun, padahal, menyebut nama acara malam itu apa, juga dia tidak tahu, mentang-mentang dibelakang ada spanduk bekas tulisannya Urip Malaekatan, dikiranya nama acaranya itu, padahal nama acaranya adalah Maiyahan.

Dan saya semakin mengenal Cak Nun, cara dia merespon begitu anggun, saya betul-betul tidak menyangka responnya akan seanggun itu, sehingga si mahasiswa penggugat itu saya yakin betul betul akan berpikir keras tanpa merasa bersalah yang depresif 7 hari t malam, tapi juga jamaah yang tersulut emosinya marah betulan oleh omongan si mahasiswa juga terakomodir. Dan pertanyaan tentang point-point yang dibilang oleh si mahasiswa dia benci dengan pemikiran Cak Nun, terjelaskan secara perlahan, dan suasana yang sempat agak tegang cair kembali atas dukungan penabuh Kiai Kanjeng dan itu tidak akan terjadi kalau Cak Nun salah memilih lagu.

Saya tidak mengkultuskan beliau, saya tidak merokok seperti beliau, saya tidak menisbatkan apa-apa beliau, Saya menulis ini cuma mau mengucapkan terima kasih, Cak Nun sudah menunjukkan saya jalan dan membukakan gerbang, untuk saya bisa menikmati keindahan dan sensasi-sensasi luar biasa dalam pergulatan pemikiran yang sering ia sebut "Kita bebas untuk menentukan batas, bukan bebas untuk mengumbar kebebasan", gerbang menuju Madinatul Ilmu.


PROFIL LENGKAPNYA :

Budayawan Emha Ainun Nadjib, kelahiran Jombang, Jawa Timur, 27 Mei 1953, ini seorang pelayan. Suami Novia Kolopaking dan pimpinan Grup Musik KiaiKanjeng, yang dipanggil akrab Cak Nun, itu memang dalam berbagai kegiatannya, lebih bersifat melayani yang merangkum dan memadukan dinamika kesenian, agama, pendidikan politik dan sinergi ekonomi. Semua kegiatan pelayannya ingin menumbuhkan potensialitas rakyat.

Bersama Grup Musik KiaiKanjeng, Cak Nun rata-rata 10-15 kali per bulan berkeliling ke berbagai wilayah nusantara, dengan acara massal yang umumnya dilakukan di area luar gedung. Di samping itu, secara rutin (bulanan) bersama komunitas Masyarakat Padang Bulan, aktif mengadakan pertemuan sosial melakukan berbagai dekonstruksi pemahaman atas nilai-nilai, pola-pola komunikasi, metoda perhubungan kultural, pendidikan cara berpikir, serta pengupayaan solusi-solusi masalah masyarakat.

Dalam berbagai forum komunitas Masyarakat Padang Bulan, itu pembicaraan mengenai pluralisme sering muncul. Berkali-kali Cak Nun yang menolak dipanggil Kyai itu meluruskan pemahaman mengenai konsep yang ia sebut sebagai manajemen keberagaman itu.

Dia selalu berusaha meluruskan berbagai salah paham mengenai suatu hal, baik kesalahan makna etimologi maupun makna kontekstual. Salah satunya mengenai dakwah, dunia yang ia anggap sudah terpolusi. Menurutnya, sudah tidak ada parameter siapa yang pantas dan tidak untuk berdakwah. “Dakwah yang utama bukan dengan kata-kata, melainkan dengan perilaku. Orang yang berbuat baik sudah berdakwah,” katanya.

Karena itulah ia lebih senang bila kehadirannya bersama istri dan kelompok musik KiaiKanjeng di taman budaya, masjid, dan berbagai komunitas warga tak disebut sebagai kegiatan dakwah. “Itu hanya bentuk pelayanan. Pelayanan adalah ibadah dan harus dilakukan bukan hanya secara vertikal, tapi horizontal,” ujarnya.

Emha merintis bentuk keseniannya itu sejak akhir 1970-an, bekerja sama dengan Teater Dinasti — yang berpangkalan di rumah kontrakannya, di kawasan Bugisan, Patangpuluhan, Yogyakarta. Beberapa kota di Jawa pernah mereka datangi, untuk satu dua kali pertunjukan. Selain berkarya melalui panggung, ia juga menjadi kolumnis.

Dia anak keempat dari 15 bersaudara. Ayahnya, Almarhum MA. Lathif, adalah seorang petani. Dia mengenyam pendidikan SD di Jombang (1965) dan SMP Muhammadiyah di Yogyakarta (1968). Sempat masuk Pondok Modern Gontor Ponorogo tapi kemudian dikeluarkan karena melakukan demo melawan pemerintah pada pertengahan tahun ketiga studinya. Kemudian pindah ke SMA Muhammadiyah I, Yogyakarta sampai tamat. Lalu sempat melanjut ke Fakultas Ekonomi UGM, tapi tidak tamat.

Lima tahun (1970-1975) hidup menggelandang di Malioboro, Yogya, ketika belajar sastra dari guru yang dikaguminya, Umbu Landu Paranggi, seorang sufi yang hidupnya misterius dan sangat memengaruhi perjalanan Emha berikutnya.

Karirnya diawali sebagai Pengasuh Ruang Sastra di harian Masa Kini, Yogyakarta (1970). Kemudian menjadi Wartawan/Redaktur di harian Masa Kini, Yogyakarta (1973-1976), sebelum menjadi pemimpin Teater Dinasti (Yogyakarta), dan grup musik KiaiKanjeng hingga kini. Penulis puisi dan kolumnis di beberapa media.

Ia juga mengikuti berbagai festival dan lokakarya puisi dan teater. Di antaranya mengikuti lokakarya teater di Filipina (1980), International Writing Program di Universitas Iowa, AS (1984), Festival Penyair Internasional di Rotterdam, Belanda (1984) dan Festival Horizonte III di Berlin Barat, Jerman (1985).
Karya Seni Teater

Cak Nun memacu kehidupan multi-kesenian di Yogya bersama Halimd HD, networker kesenian melalui Sanggar Bambu, aktif di Teater Dinasti dan mengasilkan beberapa reportoar serta pementasan drama. Di antaranya: Geger Wong Ngoyak Macan (1989, tentang pemerintahan ”Raja” Soeharto); Patung Kekasih (1989, tentang pengkultusan); Keajaiban Lik Par (1980, tentang eksploitasi rakyat oleh berbagai institusi modern); Mas Dukun (1982, tentang gagalnya lembaga kepemimpinan modern).

Selain itu, bersama Teater Salahudin mementaskan Santri-Santri Khidhir (1990, di lapangan Gontor dengan seluruh santri menjadi pemain, serta 35.000 penonton di alun-alun madiun). Lautan Jilbab (1990, dipentaskan secara massal di Yogya, Surabaya dan Makassar); dan Kiai Sableng serta Baginda Faruq (1993).

Juga mementaskan Perahu Retak (1992, tentang Indonesia Orba yang digambarkan melalui situasi konflik pra-kerajaan Mataram, sebagai buku diterbitkan oleh Garda Pustaka), di samping Sidang Para Setan, Pak Kanjeng, Duta Dari Masa Depan.

Dia juga termasuk kreatif dalam menulis puisi. Terbukti, dia telah menerbitkan 16 buku puisi: “M” Frustasi (1976); Sajak-Sajak Sepanjang Jalan (1978); Sajak-Sajak Cinta (1978); Nyanyian Gelandangan (1982); 99 Untuk Tuhanku (1983); Suluk Pesisiran (1989); Lautan Jilbab (1989); Seribu Masjid Satu Jumlahnya (1990); Cahaya Maha Cahaya (1991); Sesobek Buku Harian Indonesia (1993); Abacadabra (1994); dan Syair Amaul Husna (1994).

Selain itu, juga telah menerbitkan 30-an buku esai, di antaranya: Dari Pojok Sejarah (1985); Sastra Yang Membebaskan (1985); Secangkir Kopi Jon Pakir (1990); Markesot Bertutur (1993); Markesot Bertutur Lagi (1994); Opini Plesetan (1996); Gerakan Punakawan (1994); Surat Kepada Kanjeng Nabi (1996); Indonesia Bagian Penting dari Desa Saya (1994); Slilit Sang Kiai (1991); Sudrun Gugat (1994); Anggukan Ritmis Kaki Pak Kiai (1995); Bola- Bola Kultural (1996); Budaya Tanding (1995); Titik Nadir Demokrasi (1995); Tuhanpun Berpuasa (1996); Demokrasi Tolol Versi Saridin (1997); Kita Pilih Barokah atau Azab Allah (1997); Iblis Nusantara Dajjal Dunia (1997); 2,5 Jam Bersama Soeharto (1998); Mati Ketawa Cara Reformasi (1998); Kiai Kocar Kacir (1998); Ziarah Pemilu, Ziarah Politik, Ziarah Kebangsaan (1998); Keranjang Sampah (1998); Ikrar Husnul Khatimah (1999); Jogja Indonesia Pulang Pergi (2000); Ibu Tamparlah Mulut Anakmu (2000); Menelusuri Titik Keimanan (2001); Hikmah Puasa 1 & 2 (2001); Segitiga Cinta (2001); “Kitab Ketentraman” (2001); “Trilogi Kumpulan Puisi” (2001); “Tahajjud Cinta” (2003); “Ensiklopedia Pemikiran Cak Nun” (2003); Folklore Madura (2005); Puasa ya Puasa (2005); Kerajaan Indonesia (2006, kumpulan wawancara); Kafir Liberal (2006); dan, Jalan Sunyi EMHA (Ian L. Betts, Juni 2006).
Pluralisme

Cak Nun bersama KiaiKanjeng dengan balutan busana serba putih, ber-shalawat dengan gaya gospel yang kuat dengan iringan musik gamelan kontemporer di hadapan jemaah yang berkumpul di sekitar panggung Masjid Cut Meutia. Setelah shalat tarawih, sayup-sayup terdengar intro lagu Malam Kudus. Kemudian terdengar syair, “Sholatullah Salamullah”. Tepuk tangan dan teriakan penonton pun membahana setelah shalawat itu selesai dilantunkan. “Tidak ada lagu Kristen, tidak ada lagu Islam. Saya bukan bernyanyi, saya ber-shalawat,” ujarnya menjawab pertanyaan yang ada di benak jemaah masjid.

Tampaknya Cak Nun berupaya merombak cara pikir masyarakat mengenai pemahaman agama. Bukan hanya pada Pagelaran Al Quran dan Merah Putih Cinta Negeriku di Masjid Cut Meutia, Jakarta, Sabtu (14/10/2006) malam itu ia melakukan hal-hal yang menurut mayoritas masyarakat dan media sebagai hal yang kontroversial. Dalam berbagai komunitas yang dibentuknya, oase pemikiran muncul, menyegarkan hati dan pikiran.

Perihal pluralisme, sering muncul dalam diskusi Cak Nun bersama komunitasnya. “Ada apa dengan pluralisme?” katanya. Menurut dia, sejak zaman kerajaan Majapahit tidak pernah ada masalah dengan pluralisme. “Sejak zaman nenek moyang, bangsa ini sudah plural dan bisa hidup rukun. Mungkin sekarang ada intervensi dari negara luar,” ujar Emha. Dia dengan tegas menyatakan mendukung pluralisme. Menurutnya, pluralisme bukan menganggap semua agama itu sama. Islam beda dengan Kristen, dengan Buddha, dengan Katolik, dengan Hindu. “Tidak bisa disamakan, yang beda biar berbeda. Kita harus menghargai itu semua,” tutur budayawan intelektual itu.

*****

Nama: EMHA AINUN NADJIB
Lahir: Jombang, Jawa Timur, 27 Mei 1953
Agama: Islam
Isteri: Novia S. Kolopaking
Anak:

* Sabrang Mowo Damar Panuluh
* Ainayya Al-Fatihah (alm)
* Aqiela Fadia Haya
* Jembar Tahta Aunillah
* Anayallah Rampak Mayesha

Pendidikan:

* SD, Jombang (1965)
* SMP Muhammadiyah, Yogyakarta (1968)
* SMA Muhammadiyah, Yogyakarta (1971)
* Pondok Pesantren Modern Gontor (tidak tamat)
* FE di Fakultas Filsafat UGM (tidak tamat)

Karir:

* Pengasuh Ruang Sastra di harian Masa Kini, Yogyakarta (1970)
* Wartawan/Redaktur di harian Masa Kini, Yogyakarta (1973-1976)
* Pemimpin Teater Dinasti (Yogyakarta)
* Pemimpin Grup musik KiaiKanjeng
* Penulis puisi dan kolumnis di beberapa media

Karya Seni Teater:

* Geger Wong Ngoyak Macan (1989, tentang pemerintahan “Raja” Soeharto)
* Patung Kekasih (1989, tentang pengkultusan)
* Keajaiban Lik Par (1980, tentang eksploitasi rakyat oleh berbagai institusi modern)
* Mas Dukun (1982, tentang gagalnya lembaga kepemimpinan modern)
* Santri-Santri Khidhir (1990, bersama Teater Salahudin di lapangan Gontor dengan seluruh santri menjadi pemain, serta 35.000 penonton di alun-alun Madiun)
* Lautan Jilbab (1990, dipentaskan secara massal di Yogya, Surabaya dan Makassar)
* Kiai Sableng dan Baginda Faruq (1993)
* Perahu Retak (1992).

Buku Puisi:

* “M” Frustasi (1976)
* Sajak-Sajak Sepanjang Jalan (1978)
* Sajak-Sajak Cinta (1978)
* Nyanyian Gelandangan (1982)
* 99 Untuk Tuhanku (1983)
* Suluk Pesisiran (1989)
* Lautan Jilbab (1989)
* Seribu Masjid Satu Jumlahnya (1990)
* Cahaya Maha Cahaya (1991)
* Sesobek Buku Harian Indonesia (1993)
* Abacadabra (1994)
* Syair Amaul Husna (1994)

Buku Essai:

* Dari Pojok Sejarah (1985)
* Sastra Yang Membebaskan (1985)
* Secangkir Kopi Jon Pakir (1990)
* Markesot Bertutur (1993)
* Markesot Bertutur Lagi (1994)
* Opini Plesetan (1996)
* Gerakan Punakawan (1994)
* Surat Kepada Kanjeng Nabi (1996)
* Indonesia Bagian Penting dari Desa Saya (1994)
* Slilit Sang Kiai (1991)
* Sudrun Gugat (1994)
* Anggukan Ritmis Kaki Pak Kiai (1995)
* Bola- Bola Kultural (1996)
* Budaya Tanding (1995)
* Titik Nadir Demokrasi (1995)
* Tuhanpun Berpuasa (1996)
* Demokrasi Tolol Versi Saridin (1997)
* Kita Pilih Barokah atau Azab Allah (1997)
* Iblis Nusantara Dajjal Dunia (1997)
* 2,5 Jam Bersama Soeharto (1998)
* Mati Ketawa Cara Refotnasi (1998)
* Kiai Kocar Kacir (1998)
* Ziarah Pemilu, Ziarah Politik, Ziarah Kebangsaan (1998)
* Keranjang Sampah (1998)
* Ikrar Husnul Khatimah (1999)
* Jogja Indonesia Pulang Pergi (2000)
* Ibu Tamparlah Mulut Anakmu (2000)
* Menelusuri Titik Keimanan (2001)
* Hikmah Puasa 1 dan 2 (2001)
* Segitiga Cinta (2001)
* Kitab Ketentraman (2001)
* Trilogi Kumpulan Puisi (2001)
* Tahajjud Cinta (2003)
* Ensiklopedia Pemikiran Cak Nun (2003)
* Folklore Madura (2005)
* Puasa ya Puasa (2005)
* Kerajaan Indonesia (2006, kumpulan wawancara)
* Kafir Liberal (2006)
* Jalan Sunyi EMHA (Ian L. Betts, Juni 2006)

- www.padhangmbulan.com - 

Bu Susneti

Kunjungan berikutnya adalah ke seorang warga teladan di Kedung Banteng, Bu Neti panggilan akrabnya. Sebenarnya sopannya si memanggilnya eyang, eyang-eyang tapi masih lincah berbisnis. Hebat euy...

Ada sejilid sendiri pesan-pesan moral dari hikmah perjalanan beliau dari zaman kecil nutur cengkeh, persis seperti yang saya lakukan saat masih SD dan sebelum SD. bedanya bu Neti ini berangkat ke kebon nutur cengkeh jam 2 dini hari, sedangkan kalau saya si siang-siang.

Mungkin karena pas masa kecil mirip2, nasib saya juga sukses seperti bu Neti kali ya nanti, hehe. Apalagi ketambahan saya bukan hanya nutur cengkeh, tapi juga methiki cengkeh, repek pohon alba, wit lompong dan sebagainya. Penuh materi edukasi sewaktu saya kecil, sekolah alam tanpa guru.

Dua saja dulu pesan besar nan istimewa dari bu Neti. Pertama : ora gadhang itu ada orang yang senang melihat kesuksesan kita, itulah yang dia alami berkali-kali, SMS istilahnya : Senang melihat orang lain susah, susah melihat orang lain senang.

Beliau sebagai pebisnis kerap sekali menjumpai orang lain yang iri, hasad, dengki ketika usahanya sedang berkembang. Tapi begitu ambruk, kebalikannya, puas ia ditertawai.

Sayapun begitu kok, dulu saya itu cemas kalau2 hilmy sukses duluang nggak ngajak saya, kalau andri lebih sejahtera mendahului saya dan sebagainya. Tapi belakangan ini alhadulillah sudah solat tobat, insaf dan insyaallah kalaupun kata2 saya ini dibuktikab beneranpun saya ikhlas kalau teman-teman saya sukses duluan, saya tidak iri, tidak hasad, tidak dengki, saya ikut bahagia saja.

Kedua : kalau kita didholimi atau dalam bahasa bisnis dirugikan, sudah ikhlaskan saja, kalau kita ikhlas, katanya ada dalil hadits yang menyebutkan bahwa yang mendholimi atau merugikan kita akan mendapat balasan kedholiman 10 kali lipat dari Allah.

Jadi, ketika dirugikan partner bisnis, tidak usah resah. Kalau ngorder tidak untung, ikhlas saja. Kalau ditinggalkan timnya, bombong saja, kalau yang tadinya amanah bersama sekarang diwariskan jadi amanah sendiri dan rugi rugi bae, nikmati saja, dan seterusnya. Ikhlas itu cuma 6 huruf, tapi perlu perjuangan untuk memilikinya, tapi kalau sudah memilikinya, ganjarannya ora baen-baen.

Oya, pelajaran tambahan dari bu Neti : The Power of mbagusi orang tua, terutama ibu. Dirinya merasa bisnisnya begitu dimudahkan, setelah menghajikan almarhumah ibunya dan senantiasa tidak pernah luput mengirim doa untuk sang ibu. Ini yang kurang dari saya, saya jarang sekali mbagusi orang tua.

Mas Gunawan

Tepatnya sebenarnya Pak, orang sudah punya istri. Mana kompak banget sama istrinya perihal ngurusi bisnis... haduuuh bikin ngiri saja ini pasangan.

Mas Gunawan adalah penguasa mainan anak, jadi dia ngedrop macam jepet2an begitu tapi ini lebih banyak mainan anaknya ke kampung-kampung. Salesnya ada puluhan, dan jumlah titik droppingnya ada belasan ribu. Dahsyaat, berapa coba itu omzetnya. Hitung sendiri lah ya.

Waktu itu saya berkesempatan main kesana, sebagai presiden tentu kunjungan harus didampingi bupati setempat, bupati kukuh. Jadi ceritanya adalah kunjungan ke warga teladan di wilayah ajibarang. Banyaaaak sekali pesan berharga tentang ilmu2 praktis dari kisah dia jatuh bangun usaha sampai suskses saat ini. Sepertinya capek jari ini kalau harus mengetikkan semua, kalau yang mau cerita lebih banyak, pas ketemu saya tanya saja langsung ya.

Satu saja dulu disini, adalah saat dia terlilit utang, bagaimana dia dimaki-maki orang, bahkan lebih dari itu, saya membayangkan bapaknya yang seorang tokoh masyarakat, seorang kiai disitu dibodoh-bodohi karena tingkah polah anaknya berbisnis dan gagal saat itu.

Saya membayangkan kalau itu terjadi pada bapak saya, bapak saya didatangi orang karena saya nggak sanggup bayar utang, bagaimana air muka dan emosi saya... mengerikan. Tapi, yang hebat saat itu, Mas Gunawan tidak berkecil hati, kegagalannya saat itu bukanlah alasan untuk mengubah konsep diri dari "saya pasti suskses" menjadi "ternyata saya cuma bisa gagal".

Tidak, tidak seperti itu. walhasil dia sukses saat ini. Perhatikanlah, kata al ustadz Yusuf Mansyur Rahimahullah, ketika kita dimaki, dijelek2i orang, ya sudah, terima, itu lagi episodenya, yang penting kita tidak sedang berpangku tangan, kita sedang berikhtiar dan berdoa hanya belum berbuah, itu sudah di dimensi Tuhan bukan di dimensi manusia lagi kalau sudah doa dan ikhtiar.

Dan perhatikanlah, sekali dua kali kita bikin salah, itu bukan pertanda kita ini orang jahat. Sekali dua kali meninju, itu bukan alasan untuk menyatakan diri kita sebagai petinju. Sekali, dua kali terperosok, itu bukan alasan untuk menghakimi diri bahwa kita ini orang apes.

Ilmu yang bermanfaat dari Mas Gunawan, semoga bertambah kebaikan untuk Anda sekeluarga

Monday, March 28, 2011

King's Speech

Ini film yang katanya mendapat 4 penghargaan Academy Award, bagus si emang. Bahwa perubahan itu evolusioner, 180 derajat dari sinetron Indonesia yang penuh mukjizat nggak jelas, di ending film inipun George VI Bapaknya Ratu Elizabeth yang saat itu baru jadi Raja Inggris Raya dan bicaranya gagap itu belum bisa bicara lancar, pidatonya masih terbata-bata... tapi di film ini diekspresikan betapa bahagianya dia sudah mengalami kemajuan tidak segagap dulu dalam pidato, pun begitu audience begitu mengapresiasi dia.

Kita itu makhluk kurang apresiasi, baik dari diri sendiri, maupun dari teman. Pun begitu, kita sebagai temanpun mungkin adalah teman yang pelit memberikan apersiasi bagi perubahan2 baik yang dilakukan oleh teman-teman kita, hanya karena perubahan itu terlihat masih sepele.

Adegan menarik salah satunya adalah ketika si dokter Logue dengan sembrononya duduk di kursi kehormatan di Wesminster Abay saat gladi resik pidato pelantikan Raja George VI.

Haha, dan di film ini jadi bisa lihat betapa cantiknya Margaret dan Elizabeth ketika masih anak-anak dulu.

Dapat kosakata baru dari film ini : "Your Majesty"

Terima kasih untuk Pak Sutradara dan mba-mba kasir 21. Film ini mengubah hidupku, walau sedikit dan mungkin tidak ada orang lain yang melihat perubahan itu, tapi aku akan senyum puas sumringah sambil melambaikan tangan dengan puas sepertihalnya George VI.

Monday, January 24, 2011

Ranah 3 Warna



Ranah 3 Warna adalah hikayat bagaimana impian tetap wajib dibela habis-habisan walau hidup terus digelung nestapa.

Seorang teman baik meng-sms tadi, dia dapat hadiah tas cantik karena jadi pembeli pertama ini novel. Weh, selamat, selamat.

Lupakan tas cantik, lupakan jadi pembeli-pembeli pertama, anggaran belum ada, ada juga untuk alokasi penyauran utang dan beberapa trip terdekat yang lebih urgent.

***

Kondangan, sebenarnya moment ini kurang menyenangkan bagiku, disamping suguhan pertanyaan wajib "kapan nyusul?" bak sebuah provokasi anak kecil yang ogah disunat padahal rekan sebayanya sudah disunat, bukan pertanyaan itu, tapi serentetan [enyebutan daftar nama teman-teman yang sudah kerja di ini kerja di ono dan seterusnya.

Dan saya tidak kerja di mana-mana, dan saya tidak punya status apa-apa. Oh no, seperti terciutkan keyakinan ini, "apakah saya menempuh jalan yang salah?", jalan yang benar adalah luluslah dengan cepat dan segeralah bekerja, karena tempat bekerjamulah identitas sejatimu.

Tapi kata novel ini, man shabara zhafira. Bukan cuma butuh kesungguhan untuk berhasil, tapi juga butuh kesabaran. Sekali lagi pesannya adalah persisten. Lebih baik miskin tapi persisten, daripada kaya tapi mencla-mencle tak berkarakter. Kebahagiaan bukan terletak pada seberapa kaya, tapi pada.... hm, pada apa ya...

Ragu-Ragu



Mengerja sambil memejamkan mata adalah tanda bahwa kita menyerah pasrah pada tanganNya yang telah menulis takdir kita. (Salim A. Fillah)

Jawaban pertanyaan di kurun waktu belakangan ini terjawab di salah satu bagian dari buku ini. Keraguan bukanlah pengendor semangat, keraguan semata sinyal untuk tetap kita persisten. Jangan berhenti, biar mereka PNS disana sini, biar mereka bergaji segana-segini, jalan masing-masing adalah hak pilihan masing-masing.

Dirimu tidak adakan DIA sia-siakan, karena kamu telah membuktikan kesetiaanmu pada visi, dalam terjalnya alur misi.

Haha, maaf belum resensi dulu. Belum selesai bacanya.

Tuesday, September 14, 2010

Sang Pencerah

Film yang sangat inspiratif, kalau saja ada 100 lagi film serupa ini, atau itu artinya ada 10 miliar x 100 sama dengan 1 triliun anggaran dari orang yang mau memproduseri film2 bertema ketokohan nasional, maka Indonesia akan menjadi raksasa anggun yang paling ditakuti Israel, apalagi Amerika.

Betapa tidak, film adalah media yang paling ngefek saat ini, terlebih dengan mengusung tema semacam film yang berkisah tentang perjalanan ketokohan seorang Hadji Ahmad Dahlan ini, dijamin Indonesia akan lekas sembuh dari krisis figur yang sedang didera saat ini.

Presiden yang menyelenggarakan openhouse saja tidak becus, malas rakyat memfigurkannya. Sudahlah....

Dari sekian scene menarik dalam film ini ada satu hal yang paling berkesan buat saya. Yakni ketika Ahmad Dahlan sedang berbincang dengan istrinya sambil dikupaskan munthul. Nyai Walidah menanggapi obrolan suaminya, "bahkan aku tidak tahu yang aku lakukan ini benar atau salah", apa tanggapan sang istri, "kalau kita selalu tahu, maka kita tidak pernah belajar."

Itulah pelajaran dari perjalanan ketokohan seseorang... dalam perjalanannya yang melawan arus keragu-raguan adalah santapan sehari-hari. Betapa tidak....

Semoga saya dikuatkan, dengan deraan keraguan yang datang justru dari orang-orang yang selama ini paling saya percaya, paling saya banggakan....

Tuesday, September 7, 2010

Nasionalisme Ala Gue

Mau tahu bagaimana nasionalisme ala Cak Nun?

Nasionalisme ala Chaerul Tanjung,

Nasionalisme ala Aa Gym,

Nasionalisme ala Dahlan Iskan,

Nasionalisme ala Onno W Purbo,

Nasionalisme ala Dedy Mizwar,

Nasionalisme ala Yohaness Surya,

Nasionalisme ala Jusuf Kalla,

Nasionalisme ala siapa lagi ya...

Dan Nasionalisme ala Rizky?

Ingatkan tanggal 19 September tulisan yang memuat kesemua itu sudah saya selesaikan ya. Chao...

Monday, August 23, 2010

Mas Andri

Stylenya pakai celana jeans, hem lengan panjang yang digulung di siku, sepatu kets dan sedikit parfum (mungkin)... itulah Style mas Andri, bos nya monster. Setahu saya dia tidak kerja, tapi punya status, dan mungkin punya mobil.

Ki Nur

Dialog kami (saya dan Ki Nur) singkat, kalau dalam istilah dunia persilatan singkatnya sebuah kejadian digambarkan dengan frasa "sepeminuman teh", kalau kali ini saya ingin membahasakan "sesantapan buka puasa". Ya, karena memang kemarin ngobrolnya sambil buka puasa.

Ki Nur adalah orang hebat, itu saja yang saya kenal. Seorang muslim taat sekaligus seorang expert untuk soal kebudayaan dan nilai-nilai luhur Jawa. Diantara obrolan yang sedikit panjang kami, pesan Ki Nur pendek tapi menohok, hm, maaf disini saya tidak bisa menggambarkan detailnya, karena tidak mungkin menuliskan ulang percakapan 2 minggu yang lalu. Begini katanya, "pelajarilah sesuatu, sampai ke esensinya..".

Compare dengan tagline saya di agustus ini, "Find Fundamental Factor". I see I see...

Asep Khaerul Gani

Menarik... ini mungkin workhsop dengan materi terpadat dan pemanfaatan waktu terefektif diantara yang pernah saya ikuti seumur hidup saya.

Saya mantap untuk sekeyakinan dengan Pa Asep, bahwa hati itu jantung. bukan otak, bukan liver. Jantung yang bahasanya begitu cerdas, kita saja yang begitu bodoh hingga tidak memahami, kecuali hanya bahasa degupannya.

Ketika mengaji degupannya berirama, damai. ketika bermaksiat degupannya berantakan, kemrungsung. Bersyukurlah bagi yang seperti itu, tandanya jantung-hati kita masih berfungsi. Ketimbang yang tidak ada damai didepan mushaf, tidak ada kemrungsung saat berbuat salah, itu artinya jantung fisiknya hidup, tapi jantung jiwanya mati, Qolbun mayit.

Terima kasih Pa Asep, pelajaran lainnya adalah tata cara memperoleh ilmu laduni, yang hanya diprivat kepada saya dan 2 rekan saya. Hm, logis, realistis dan sangat indah cara itu, insyaallah saya akan berusaha praktekkan...

Ah terlalu banyak pelajaran berharga. Next time lagi sharing-sharingnya... semoga rahmat Allah dan keselamatan untuk Pa Asep.

Saturday, August 7, 2010

Selamat Ramadhan Pa Bambang ZL

Ramadhan sebentar lagi tiba, katanya orang beriman harus senang menyambutnya. Bentuk senang, tentu bukan sekedar tertawa-tawa atau menyiapkan stok persediaan kulkas saja.

Salah satu yang baik untuk kita lakukan adalah menyambung silaturahim yang terdelay karena serentetan kesibukan kita. Kemarin saya Call Pa Ikhsan, lalu saya sapa teman-teman lama saya di SMA dan ini masih terus berlangung maintenance phonebook yang selama ini terbengkalai. Mudah2an, ketika kaki kita menginjakkan Ramadhan hari pertama nanti, sudah tidak ada satupun hati yang tersakiti juga tidak ada lagi kesalahan orang lain yang belum termaafkan.


Tiba-tiba saya jadi teringat perseteruan dengan Zona License (ZL) Matematika Dahsyat Jawa Tengah, Pa Bambang namanya. Memang kami hanya berpolemik lewat tulisan dan beradu pendapat lewat telepon, saya belum pernah bertemu orangnya langsung. Namun di phonebook saya belum saya delete nama tersebut : Pa Bambang ZL.

Kepadanya saya sampaikan minta maaf, dan disaat ini pula saya maafkan sikap dan ucapannya yang menyakiti dan keliru bagi saya. Sekaligus ucapan terima kasih, sehingga kasus perseteruan ini tidak berlanjut ke meja hijau, sebagaimana yang ia ancamkan dulu. Terima kasih pula saya ucapkan, dari peristiwa itu saya belajar bahwa seharusnya saya mengundang trainer seharusnya lewat manajemennya.

Semoga Ramadhan kali ini indah. Kemarin saya mengatakan, umur 24 itu adalah umur dimana spiritualitas seseorang sangat peka. Ramadhan boleh berulang setiap tahun, tapi ramadhan di umur 24 ya cuma kali ini saja. betul2 kali ini saja.

Friday, July 16, 2010

Daftar Mimpi Rizky yang Tertulis

1. Avanza hitam G-VVTI di Nasmoco Purwokerto terlunasi dan bisa dipakai untuk kendaraan operasional bisnis
2. Grha L22 jadi tempat yang profesional untuk kantor sekaligus sentra kegiatan alumni
3. Warnet Semangat jaya, menjadi sentra kegiatan anak muda di sana
4. Cabang outlet Mie Ayam ada 2 atau lebih dengan omzet bagus dan kualitas "numani"
5. Ayam kremez ada 4 warung atau lebih dan semuanya laris, menjadi rajanya ayam kremez
6. Koran Dinding terbit legal nasional
7. SDTC jadi icon training center pelajar di Indonesia dengan produk training unggulan yang unik, berbobot dan tersebar di seluruh Indonesia
8. Punya EO Pelatihan berkaliber regional bahkan nasional
9. Punya kebun emas 5 kg atau lebih
10. Punya mobil pribadi Toyota Rush, Toyota Camry
11. Berpartner bisnis dengan Chaerul Tanjung
12. Berguru secara privat dengan Ary Ginanjar Agustian
13. Punya foundation yang mengembangkan wakaf produktif berkantor di Menara 165 dengan salah satu komoditas yang dikembangkan adalah kambing
14. Punya perkebunan cabai merah menembus pangsa ekspor
15. Punya kafe free hotspot sekaligus disewakan untuk meeting dan seminar
16. Jadi dosen sekaligus ketua yayasan di kampus milik sendiri
17. Punya UKM Center sebagai unit kegiatan mahasiswa sekaligus usaha kecil menengah yang maju
18. Punya gerai dinar (perusahaan asuransi emas)
19. Menaik hajikan Bapak Ibu, semua mbah dan bugede
20. Punya pendamping, istri, terbaik
21. menaik hajikan diri sendiri, istri dan adik-adik
22. menyelesaikan S1 di salah satu universitas terbaik di Indonesia
23. menyelesaikan S2 di salah satu universitas terbaik di Indonnesia
24. Dekat dan berpengaruh dengan presiden
25. Dekat dan berpengaruh dengan gubernur

26. Dekat dan berpengaruh dengan bupati
27. Mempunyai perusahaan multinasional PT NUSA MADANI (Holding Company), Tbk
28. Memiliki konsep ide gagasan kontribusi berskala nasional dan diakui dengan diberikannya gelar Doktor Honoris Causa
29. Menjadi 1 dari 10 tokoh perubahan Indonesia versi Republika
30 Mempunyai perusahaan travel penyelenggara umroh dan haji
31. Memiliki unit bisnis di tanah suci
32. Mempunyai desa wisata
33. Mempunyai rumah makan taman, outbond lengkap dengan wisata di atas sungai serayu
34. Mempunyai 1.000 atau lebih karyawan
35. Mempunyai gerbong kereta api pribadi
36. Mempunyai pondok pesantren modern NUSA MADANI
37. Mempunyai baitul aitam
38. Mempunyai 3 buku best seller atau lebih
39. Mempunyai usaha di dunia property sekaliber agung sedayu group
40. Mempunyai iPad
41. Mempunyai laptop toshiba
42. Mempunyai internet service provider
43. Berhasil menerima dan menjalankan tongkat estafet 165 dalam pencerahan SDM Indonesia
44. Mendaki gunung gede pangrango dan rinjani
45. Keliling Jawa dengan naik kereta api eksekutif
46. Mempunyai ruko 3 lantai
47. Mempunyai guest-house
48. Kemana-mana pakai sepatu kets
49. Umroh setahun sekali
50. Menjadi khotib jumat yang berbobot dan menginspirasi

51. Mempunyai sekolah Islam terpadu
52. Mendapat penghargaan kalpataru dan berbagai penghargaan dari presiden
53. Mendapat penghargaan internasional
54. Mempunyai hotel
55. Mengelola obyek wisata milik Pemda
56. Menjadi penampung, penyalur dan pembina produktivitas pedesaan
57. Menjadi seorang expert di suatu bidang dan itu nomor 1 di Indonesia
58. Bisa berbahasa inggris conversation aktif
59. Bisa berbahasa arab
60. Bisa mengajarkan anak-anak bahasa jawa ngoko, kromo dan kromo inggil
61. Hafal Al Quran
62. Hafal 1000 hadits atau lebih
63. Menjadi trainer dengan public speaking teknik yang mumpuni dan memukau
64. Menjadi penceramah dan bisa mengisi pengajian dengan materi bagus, mendalam dan aplikabel
65. Mempunyai guru mursyid
66. Membahagiakan orang tua dengan kelonggaran uang, waktu dan cucu2 yang sehat, cerdas dan berakhlak mulia
67. Bisa mengadakan reuni SMP dan SMA dengan biaya sendiri dan lengkap yang hadir
68. Jalan-jalan keliling Indonesia dengan keleluasaan uang dan waktu
69. Jalan-jalan keliling Eropa dan dunia dengan keleluasaan uang dan waktu
70. Membantu tetangga hingga tidak ada satupun orang berkekurangan dalam satu kecamatan
71. Membangun jaringan masjid yang ada SPBU nya dan ada cottage-nya (cottage syariah)
72. Mempunyai kantor cabang di Semarang atau lebih
73. Mempunyai kantor di Jakarta di Menara 165
74. Membangun yayasan wakaf NUSA MADANI bersama teman-teman se-almamater yang produktivitas dan kontribusinya berskala nasional
75. Akad dan resepsi pernikahan di Masjid Agung Jawa Tengah

76. Menjadi murid privat Hasan Toha dan keluarga besar imperiumnya
77. Menjadi pembimbing umroh dan haji
78. Mempunyai kost2an sehat, Wisma Semangat Donk untuk Putra
79. Mempunyai kost2an sehat, Wisma Srikandi untuk Putri
80. SPC Rumah Desain berkembang
81. SPC Clothing menjadi icon konveksi di Purwokerto
82. SPC Percetakan mempunyai mesin sendiri yang lengkap dan menjadi rujukan percetakan di Jawa Tengah Bagian Selatan
83. Purwokerto Notebook Center dikelola profesional dan terus berkembang
84. Menjadi redaksi majalah milik sendiri
85. Mempunyai 7 kartu kredit
86. Mempunyai aset properti
87. Menggantikan Pak Made dan Pak Wisnu sebagai Juragannya Banyumas
88. Menggantikan Pak Ical sebagai Juragannya Indonesia
89. Mengelola kios di kantin-kantin kampus
90. Belajar expor-impor dan menjual komoditas lokal
91. Menciptakan brand oleh-oleh lokal Banyumas yang dikenal secara nasional
92. Mendirikan Museum Nusa Madani yang berisi daftar koleksi kehebatan budaya, tokoh, sejarah dan kontribusi Indonesia di dunia Internasional
93. Memproduseri 50 film bertema ketekohohan nasional
94. Memiliki kebebasan waktu sehingga bisa itikah setiap tahun di Masjid Nabawi
95. Memiliki kebebasan waktu sehingga bisa mengiringi Caknun berperjalanan dari desa ke Desa
96. Menemukan instruktur olahraga dan belajar mencintai dan merutinkan olahraga untuk kesehatan di hari tua

Saturday, July 3, 2010

Rancho & Virus

Harus nonton film ini : 3 Idiot
Film yang menarik, pesan moralnya dalam namun pengemasannya cerdas ( + konyol). Scene paling menyentuh adalah ketika sang Rektor Viru memanggil si Rancho yang hendak pergi karena diusir dari kampus.

Ya, yang sewaktu setelah Mona melahirkan. Setelah menjelaskan tentang pensil dan pulpen luar angkasa Pak Viru mengatakan,  "Kamu tidak bisa selamanya benar", dan setelah itu pena kebanggaan itupun ia serahkan kepada murid terhebatnya itu.

Ya, kamu tidak bisa selamanya benar.

Thursday, May 20, 2010

Pelajaran dari Cara-Cara

Terima kasih untuk cara-cara yang kurang bijaksana, yang diterimakan kepada saya. Yang ternyata kesemuanya itu, justru akan menguatkan saya.

Wednesday, May 12, 2010

Davied "Komeng" Eko P.

Banyak cerita menarik dan menginspirasi dari pengalamannya berjalan di dunia wirausaha dan kemandirian sejak beberapa tahun silam ia jajaki.

Di bisnis itu penuh dengan keadaan-keadaan spekulatif. Beranilah berspekulasi, atau kalau tidak berani, mending tidak usah jadi pebisnis. Kira-kira begitu salah satu point yang menurut saya sangat berharga.

Oh ya, dia masih single dan cukup berpengalaman, barangkali ada yang berminat, hub saya, nanti saya kenalkan, hehe

Wednesday, April 28, 2010

Mandiri 2010

Saya punya buku kas pribadi sejak 1 Januari 2010. Sebetulnya di 2007 lalu juga sudah, bahkan di kelas 1 SMA saya bukan hanya punya catatan, tetapi saya punya bisnis bernama Asterix Inc. yang melayani penjualan coffemix dan mie instan di GMC 25 dan dari uang pribadi dan bisnis itulah saya belajar praktek langsung pelajaran akuntansi, pelajaran terfavorit saya yang hanya 1 semester seumur hidup saya menerimanya.

Dari buku kas itulah, akan saya pertanggung jawabkan uang orang tua yang masih terpakai oleh saya hingga masuk tahun 2010 ini. Itu bukan uang cuma-cuma, itu uang saya pinjam, utang!, dan akan saya bayar uang pula, sebagai konsistensi pernyataan saya, bahwa di tahun 2010 ini saya sudah mandiri 100%.
Buku Kas Pribadi Rizky, setiap rupiah tercatat disini

Monday, April 26, 2010

Pesan dari Andika Setyo H

Andika adalah salah satu stakeholder bisnis saya. Memang bukan sebatas stakeholder, ya hampir mendekati konsultan sepertihalnya 3 konsultan pribadi saya : Mas Hendro, Mas Arif dan Ria Spensaba, tapi belum.

Saya banyak dapat pelajaran diantaranya tentang Coorporate Culture di dunia pegawai negeri, prinsip-prinsip dasar manajerial, komunikasi efektif dan lain sebagainya. Saya ingin ketengahkan satu saja dulu disini yang sangat berarti untuk saya.

Terakhir Andika datang ke Purwokerto ada Ayu dan Meta juga menemani saya mengobrol, hingga menjelang pamitannya saya (karena saya yang pergi duluan kemarin), ada satu pesan berharga, begini : "Siapa yang paling berhasil, bukan dia yang memiliki kekuatan, kekuasaan, tetapi dia yang paling pandai beradaptasi."

Bukan pesan baru, karena ini adalah pesan yang persis saya dengar dari Pa Mustar di Sang Pemimpi. Namun, pesan inilah yang mentenagai saya untuk menghadapi pertemuan-demi pertemuan yang (jujur) tidak mudah saya lalui tapi harus saya mampui, Colaps bisnisnya Rhea yang kemudian dia memilih hengkang, pernyataan mundurnya Hilmy, statementnya Azis soal warnet dan Beralih rel nya Andri.

Tuhan kirimkan energi untuk mentenagai saya lewat Andika, Bersyukur kepada Allah SWT, berterima kasih saya kepada Andika.

Dan kata Pa Zainal di FB kemarin, "sesuatu itu menjadi berharga, kalau ada pada waktu dan tempat yang tepat."

Friday, April 23, 2010

Mas Agus Ultra & Aster Disc

Membuka usaha si persoalan gampang mas, mempertahankannya itu loh. Setiap bisnis punya lika-liku (karakteristik)-nya sendiri-sendiri. Penguasaan terhadap itu secara detaillah yang menjadi kunci kesuksesan seseorang berbisnis.

Monday, April 19, 2010

Oki Novendra dan Cara Belajarnya

Pada International Conference Young Scientists ke-17 di Grand Bali Beach, Sanur, Bali, 13 April kemarin Oki mendapat medali perak atas keberhasilannya mengotak-atik rumus matematika diferensial sehingga bisa digunakan untuk mengungkap kematian Michael Jackson.

Indonesia memang penuh orang pintar ICYS dua tahun berturut2 Indonesia hanya bersaing dengan Jerman dan Indonesia menang telak dengan medali emas terbanyak. Itulah, level Indonesia memang Jerman, bukannya negara-negara ceremente.

Saya terinspirasi dengan cara belajar Oki Novendra, Ibunya menuturkan anaknya tidak pernah diforsir belajar, anaknya menjadi pandai begitu justru karena tidak dipaksa belajar, aktivitas hobi dan olahraganya seimbang, tidak melulu mengotak-atik rumus.

Oh, ternyata jadi orang pintar itu begitu, banyak2lah download lagu, sering-seringlah bersepeda, backpaking, asahlah otak kanan dengan motivasi dan sebagai orang Islam tentulah ibadah ritualnya yang mantep

Pa Ruli (Mentor EU)

Sewaktu sedang EU angkatan 4, saat itu saya sudah jadi alumni, saya datang ke kelas seminar, tapi tidak masuk ruangan. Saya dan teman saya hanya ngobrol dengan Pa Ruli di luar ruangan, obrolan yang sekitar setengah jam tapi syarat ilmu.

Pengusaha sukses yang salah satu usahanya adalah membeli franchise cuci mobil itu membagikan banyak ilmu, salah satunya saya ingin sharingkan disini :

"Niatkan bisnis untuk menolong orang lain, maka keluarga dan dirimu sendiri akan diurus oleh Tuhan."

Kira-kira begitu lah, saya lupa, sudah lama sekali si, 2 tahunan yang lalu. Tapi kalimat inilah yang sekarang terinternalisasi ke dalam diri saya sehingga saya tidak lagi mempermasalahkan teman-teman lain mau ikut membangun SDI dari lininya atau tidak, yang penting sayanya, saya tidak pernah meniatkan bisnis untuk sukses sendiri, saya rela jadi jembatan keberhasilan SDI yang mereka ada didalamnya.

Teman lain akan seperti itu atau tidak, itu terserah, saya tidak berhak memaksakan. Terima kasih Pa Ruli dengan Mac cantiknya

Indonesia Menghafal, TPI tiap Ahad 13.00

Ustadz yang satu ini memang solutif dan aplikatif, itulah Yusuf Mansyur, seorang yang menurut saya penyerahan diri dan kepercayaan kepada Allah SWT nya jempol abizz, bukan cuma di bibir tapi di action.

Di TPI jam 13.00 tiap Ahad ada acara keren, Indonesia Menghafal. Fenomenal menurut saya, dimana bacaan Al Quran dengan keindahannya, kecerdasan tajwid, tahsin dan bla bla bla nya saya kurang ngerti betul-betul menampilkan indahnya Al Quran di TV yang ditonton tanpa batas ruang dan sekat strata, saya menerka akan banyak mualaf lahir gara-gara nonton acara ini.

Saya ingin bagikan metode sederhana yang diajarkan Yusuf Mansyur untuk menghafal Al Quran, satu tapi sangat aplikabel, yakni dengan drilling empat huruf empat huruf. Pecah ayat menjadi 4 huruh (boleh 3 atau 5 sesuai konteks), lalu ulang-ulang hingga puluhan kali, baru lanjut ke empat ayat berikutnya, begitu seterusnya. Cobalah, ampuh lho..

Dan dari acara itu dan banyak acara-acara yang saya datangi saya menemukan pola yang saya sebut EMPAT YANG SALING MENJAGA. Inilah jawaban pertanyaan saya dari dulu, bagaimana cara menjaga amalan kita? ketemu jawabannya di pola ini, yakni menjaga amalan dengan amalan. Membaca dan menghafal Quran akan menjaga niat puasa sunnah kita, puasa sunnah akan menggerakkan langkah kita untuk sholat sunnah, dan sholat sunnah akan meringankan sedekah kita sebagai ungkapan syukur, dan sedekah kita akan membuat kita termagnet oleh Al Quran begitu seterusnya.

Hak cipta pada Rizky Dr

Monday, April 5, 2010

Niels Bohr

Sir Ernest Rutherford, Presiden dari Royal Academy, dan penerima Nobel Fisika menceritakan kisah ini:

"Beberapa waktu lalu aku menerima panggilan dari kolegaku. Dia akan memberikan nilai nol untuk ujian salah seorang siswanya, tapi siswa tersebut berkeras dia harus mendapatkan nilai sempurna. Sang instruktur dan siswa teresebut sepakat untuk penengah yang obyektif dan aku yang dipilih".

Soal ujiannya berbunyi: "Tunjukkan cara mengukur tinggi sebuah gedung dengan bantuan barometer."

Siswa itu menjawab: "Bawa barometer tersebut ke puncak gedung, ikatkan dengan sebuah tali, turunkan sampai ke jalan lalu tarik kembali ke atas, ukur panjang tali. Panjang tali itu adalah sama dengan tinggi gedung."

Siswa tersebut berhak meminta nilai penuh karena dia menjawab dengan lengkap dan benar. Di sisi lain, nilai penuh harusnya diberikan atas dasar kompentensi di bidang fisika, dan jawabannya tidak menunjuikkan hal ini. Aku menyarankan ujian ulang. Aku memberikan waktu enam menit untuk menjawab soal yang sama dengan syarat harus dijawab menggunakan dalil-dalil fisika.

Lima menit berlalu, dia masih belum menulis apa-apa. Aku menanyakan apa dia mau menyerah, tapi dia menjawab kalau dia punya banyak solusi, dia cuma memikirkan solusi yang terbaik. Aku menyuruhnya melanjutkan dan pada menit berikutnya dia menyerahkan jawabannya yang berbunyi "Bawa barometer ke puncak gedung, jatuhkan, dan ukur waktunya dengan stopwatch, lalu menggunakan rumus 'jarak=0,5*percepatan*waktu^2, tinggi gedung bisa diukur."

Saat ini aku meminta kolegaku untuk menyerah. Dia setuju dan memberikan siswanya nilai penuh. Saat meninggalkan ruang ujian aku teringat bahwa siswa itu punya beberapa solusi, jadi aku menanyakan solusi apa saja itu.

Siswa itu menjawab, "ada banyak cara mengukur tinggi gedung dengan bantuan barometer. Misalnya, membawa barometer ke luar, lalu mengukur tinggi barometer dan panjang bayangannya, dan mengukur panjang bayangan gedung, dan dengan rumus perbandingan sederhana tinggi gedung bisa diketahui."

"Kalau Anda mau cara yang lebih rumit, ikat barometer dengan tali, ayun seperti bandul di lantai dasar dan di atap untuk menghitung nilai gravitasi. Dari perbedaan nilai gravitasi tinggi gedung bisa dihitung."

"Dengan metode yang sama, bila dari atap talinya di ulur sampai ke dasar lalu diayunkan seperti bandul, tinggi gedung bisa dihitung melalui periode ayunan."

"Ini cara kesukaan saya, bawa barometer ke tempat pemilik gedung lalu katakan: 'Pak, ini ada sebuah barometer, bila Anda memberitahukan tinggi gedung Anda, saya akan memberikan barometer ini."

Saya bertanya apakah dia tidak mengetahui cara konvensional untuk memecahkan masalah tersebut. Dia jawab kalau dia tahu, tapi dia tidak mau terpaku pada satu pola pemikiran saja.

Siswa itu bernama Niels Bohr, peraih Nobel di bidang fisika tahun 1922 dan salah satu ilmuwan fisika yang paling berpengaruh di abad 20.


Sumber :
Mengukur gedung dengan barometer
dikirim oleh Iwan Surya

Wednesday, March 10, 2010

Jeff Bezos, Amazon.com

Jeff Bezos adalah lulusan Princeton dengan gelar BSE (Bachelor of Science and Engineering) di bidang electrical engineering dan computer science. Setelah lulus tahun 1986, ia ditawari pekerjaan oleh Intel, Bell Labs dan Andersen Consulting, tetapi Bezos justru memilih kerja di Fitel, sebuah start up di bidang “financial telecommunications”.

Fitel adalah sebuah perusahaan yang didirikan oleh profesor-profesor dari Departemen Ekonomi di Columbia University. Inti bisnisnya adalah sejenis bursa online yang memudahkan transfer data dari Negara-negara yang berbeda. Ketika itu belum ada internet, sehingga usah semacam ini tentunya mendatangkan banyak uang.

Tahun 1988, Bezos pindah ke Bankers Trust Company. Ia membuat software BTWord, yaitu software yang memungkinkan klien-klien Banker Trust melihat laporan hasil investasi mereka lewat computer. Sebelumnya, laporan investasi secara berkala melalui hardcopy, tetapi Bezos mengotomatisasikannya lewat computer.
Tahun 1990, Bezos merasa belum siap mendirikan perusahaan sendiri, tetapi sudah siap pindah dari Bankers Trust. Mengapa? Dia Mengatakan bahwa ia akan pindah ke perusahaan dimana ia bias mengejar dambaannya, yaitu suatu system yang diberi istilah “second phase automation”. Apa maksudnya? Yakni dimana kita menggunakan teknologi untuk untuk mengubah proses bisnis yang lama menjadi lebih cepat dan efiesien. Lebih lanjut, kata Bezos, Second Pase Automation adalah “when you can fundamentally change the underlying businees process and do thing in a completely new way. So, it’s more of a revolution instead of an evolution.” (ketika Anda bisa mengubah suatu proses bisnis secara mendasar dan melakukannya dengan metode terbaru. Jadi, semuanya akan lebih tepat dikatakan sebuah revolusi daripada hanya sebuah evolusi.)
Akhirnya pada tahun 1990, ia resmi kerja di D.E. Shaw. Pertengahan tahun 1994, Bezos mengusulkan pada Mr. Shaw untuk membuat took online. Bezos kaget dan kecewa karena idenya ditolak mentah-mentah oleh Shaw.
Namun, Bezos tidak bisa melupakan idenya. Ia selalu melihat angka 2300 persen sebagai angka perkembangan tahunan internet. Dia melihat angka sebagai “huge, potentially wasted opportunity” (peluang besar potensial yang terabaikan). Akhirnya, Bezos mengatakan pada Mr. Shaw bahwa dia akan keluar dari D.E.Shaw dan membangun mimpi besarnya. Menyadari semangat muda Bezos yang meluap-luap, Mr. Shaw dengan karakternya sebagai orang tua yang bijaksana membawa Bezos jalan-jalan ke Central Park. Dia mengatakan bahwa penjualan buku online adalah ide besar. Namun, hal itu akan lebih baik dilakukan oleh orang-orang yang belum mendapatkan pekerjaan bagus, tidak seperti Bezos yang saat itu sedang menjabat Senior Vice President yang keamanan financialnya telah terjamin. Apalagi, menurut aturan siklus perusahaan, sebentar lagi ia akan menjadi CEO di D.E.Shaw.
Bezos mendapatkan waktu 48 jam untuk memikirkan keputusannya keluar. Akhirnya, ia tetap memutuskan keluar. Dia mengatakan, “Nanti Kalau saya sudah berumur 80 tahun, saya mungkin sudah tidak ingat berapa gaji saya di D.E.Shaw tahun 1994, tetapi saya pasti ingat dan menyesal kalau saya tidak terjun ke bisnis internet.” Selanjutnya, Bezos meninggalkan D.E. Shaw yang saat itu sedang memberikannya gaji sebesar 7 figure per tahun (7 figure terkecil adalah $1,000,000 bila bagi 12 sekitar $83,333 per bulan). Sejak itu, Bezos mulai merintis www.amazon.com dan mengembangkannya ke seluruh dunia.

Sebagaimana kita ketahui, produk utama amazon adalah buku. Mengapa harus buku? Sewaktu bekerja di D.E. Shaw, Bezos ditugaskan meneliti tentang bisnis yang bias dikembangkan di internet. Ia membuat daftar sampai 20 barang yang bias dijual, dari software computer sampai perlengkapan. Dalam daftarnya, buku menempati posisi teratas. Tempat kedua adalah musik, tetapi musik dieliminasi karena industri musik saat itu dikuasai 6 label record dan mereka mendominasi distribusi. Sebagai suatu perbandingan sederhana, saat itu ada 300.000 keping CD musik dengan judul berbeda, tetapi ada 3 juta buku dengan judul berbeda.

Menurut Bezos, saat saat itu penjualan dikatakan “large and fragmented”(luas dan terbagi) karena tidak ada yang mendominasinya. Di Amerika, ada lebih dari 10.000 penerbit buku, tetapi kebanyakan hanya memiliki kurang dari 10 judul buku, tetapi kebanyakan hanya memiliki kurang dari 10 judul buku. Bahkan, Random House yang merupakan penerbit terbesar hanya menguasai 10% pasar. Dua took buku terbesar pun, Barnes & Noble dan Border, jika digabungkan hanya menguasai sekitar 25% dari $30 miliar total sales. Ketersediaanpun merupakan salah satu keuntungan bisnis buku. Buku dapat dipesan langsung dari penerbit atau dari jaringan distributor.
Makin lama amazon makin berkembang dan seperti yang kita lihat saat ini amazon masih berdiri mantap, meskipun saingannya kian hari kian bertambah.
“Visi kami,” simpul Jeff,” adalah perusahaan dunia yang sangat berpusat pada pelanggan. Tempat orang untuk menemukan dan mengetahui segala sesuatu yang mungkin ingin mereka beli secara online.”Tujuan Amazon.com bukan menjadi toko buku terbesar di dunia melainkan toko serba ada terbesar di dunia.”
Sebagai “toko serba ada terbesar di dunia” Jeff selalu mengingatkan enam nilai dasar perusahaan. Keenam hal itu adalah :
1. Obsesi Pelanggan. Pelayanan kepada pelanggan — memberikan apa yang diinginkan pelanggan pada harga semurah mungkin dan dengan waktu secepat mungkin — selalu merupakan tugas terpenting
2. Kepemilikan. Semua karyawan ditawari peluang untuk menjadi pemegang saham di Amazon.com. “Semua orang adalah pemilik,” ujar Jeff Bezos.
3. Melakukan tindakan segera.”Lakukan itu sekarang”. “Jangan menunda-nunda”, “Wujudkanlah” adalah jargon-jargon yang selalu didengungkan. Tentu saja ditambah satu frasa lagi yakni “Tumbuh Besar dengan Cepat.”
4. Kesederhanaan. Yang tampak dari kantor sebuah perusahaan sebuah Amazon.com adalah kesederhanaannya. Uang tidak dihambur-hamburkan untuk dekorasi dan kemewahan.
5. Standar Karyawan yang Tinggi. Amazom.com tetap menginginkan orang-orang yang cerdas. Mereka disaring melalui daftar riwayat hidup dan wawancara untuk menemukan mereka.
6. Inovasi. Amazon.com terus memperkenalkan gagasan-gagasan baru, sistem baru dan penawaran baru kepada para pelanggannya.

Sumber :http://one.indoskripsi.com/judul-skripsi-makalah-tentang/kisah-sukses-pendiri-amazon.

Friday, March 5, 2010

up! the movie

keren banget, sharingnya kapan2 deh.

Ini sharingnya.

Wednesday, March 3, 2010

Punk in Love

Nonton semalem, sendirian. Wkwkwk, dasar film "saru", itu kalau dilihat dari sisi bahasa. Tapi tak tahulah, saya tak begitu mengerti kehidupan bani Bunk. Hanya saya akui, secara implisit banyaka pesan2 moral yang terselip di film berbahasa kadang kasar dan adegannya beberapa ngawur itu.

Satu pelajaran sangat berharga yang ingin saya review adalah soal perjalanan panjang mereka dari Malang menuju Jakarta. Andai saja mereka naik Gajayana dan ngumpet di WC saat ada pemeriksaan tiket, atau selama di perjalanan jangan pernah keluar dari WC, mungkin perjalanan tidak akan sepanjang itu, sehari, beres.

Namun, apa yang terjadi, begitu banyak kejadian tidak terduga, harus nyasar ke Bromo, mampir di makam Bung Karno, hampir mati karena tetanus di Cirebon. Satu hal, di film itu semua terlihat pendek dan fine-fine saja, karena para penontonpun saya yakin sudah kadung optimis bahwa apapun yang terjadi pasti endingnya mereka akan sampai Jakarta.

Akan tetapi, seandainya kita yang ada di posisi mereka, apakah sesederhana itu? tidak. Ada terlalu banyak peristiwa yang membuat keraguan untuk pulang ke Malang lagi muncul, ada terlalu banyak bisikan, apa kalau sampai di Jakarta misi mereka menaklukan Maia akan sukses, ada terlalu banyak konflik yang membuat mereka harus menahan gerutu dan nafsu untuk menimpuk teman sendiri.

Ah, itukah simbol perjalanan sukses? jangankan cuma diceriatkan, bahkan difilmkanpun tidak cukup mewakili perasaan dan perang batin yang ada selama perjalanan begitu banyak belibet sana sini.

Kalau kita pandai mengambil makna, semua permasalahan itu adalah peluang, untuk kita bisa meneguhkan keyakinan sesering mungkin, meluruskan niat selurus mungkin dan memaklumi salah dan lalai sebanyak apapun.

Friday, February 12, 2010

Emha Ainun Nadjib

"Apa gunanya ilmu kalau tidak memperluas jiwa seseorang sehingga ia berlaku seperti samudera yang menampung sampah-sampah. Apa gunanya kepandaian kalau tidak memperbesar kepribadian seseorang sehingga ia makin sanggup memahami orang lain?"

Izar Handika

Enam tahun sesekolahan, tapi enggak pernah dekat-dekat amat, paling pas kelas 1 SMP sekelas dan kelas 3 SMA sama-sama jadi ketua kelas. Pendiam, tapi pemikirannya meledak-ledak juga... beberapa inspirasi dari beberapa obrolan dengan seorang Izar


1. Ilusi Negatif



Inilah kegagalan primer para orang-orang yang terbakar semangatnya oleh motivasi dan ajakan berpositif thingking. Kegagalan yang diakibatkan oleh dirinya tidak bisa menghilangkan ilusi negatif. Ilusi negatif apa itu? Ilusi negatif yang mengabarkan pada kita bahwa hari esok akan lebih gampang dari hari ini untuk memulai.

Iya, kan? berapa sering penundaan dengan niat kita bisa lebih sempurna mengawali bila sesuatu itu diawalinya besok justru membuat semuanya tidak berjalan berbeda sama sekali dengan yang kita bayangkan? Bukannya hari besok menjadi timing yang lebih sempurna, justru ketika hari besok datang, mood sudah hilang, semangat sudah memudar, hambar.

Maka itu, belajar untuk tidak sok tahu mengira-ira kalau memulainya besok itu akan lebih sempurna itu penting bagi orang-orang yang ingin sukses. Timing tersempurna ya saat ini.



2. Melupakan yang sudah ada

Banyak orang berusaha mendapatkan yang dia inginkan, termasuk pasangan hidupnya dengan mengejar si-dia dengan mati-matian. Padahal, sikap seperti itu justru membuat enek dan muak si-dia. Ya, analoginya sederhana, orang lebih tertarik untuk mengunduh buah kesemek yang masih di pohon, yang untuk mendapatkannya perlu perjuangan, ketimbang buah apel yang ada di atas meja yang tinggal ambil.

"orang lebih menghargai apa-apa yang belum ia dapatkan dan suka melupakan apa-apa yang ia miliki."

Maka, cara terbaik mendapatkan si-dia bukanlah dengan mengejar-ngejarnya dengan tidak tahu malu. Tetapi memantaskan diri ini menjadi pribadi yang berkualitas. Bukan fokus pada kualitas pengejaran kita, tetapi fokus pada kualitas pribadi kita.

Tapi jangan diartikan pasif, nah lo, susah kan. ya, aktif, tapi tidak mengejar-ngejar, tapi justru menjadi pribadi yang memenuhi batas kepantasan untuk ia unduh.

Saturday, January 16, 2010

Chatting dengan Pa Adnan (Dosen Saya di Akatel)

"Sebetulnya itu cuma persoalan persepsi Mas", kata Pa Adnan menutup obrolan di YM kemarin.

Tiga orang ada mungkin, yang menyarankan saya segera keluar saja dari kuliah. Fokus di bisnis. Kata Bob Sadino juga begitu, entrepeneur tapi tetep kuliah, ya entrepeneur banci namanya. Tapi obrolan dengan Om Bob secara pribadi waktu itu di sebuah cafe di Bandung memahamkan saya bahwa "kuliah" itu berbeda dengan "kuliah".

Paham tidak? Kalau tidak paham, tunggu postingan kapan-kapan saya tentang bedanya "kuliah" dan "kuliah", saya tidak akan bahas disini. Tapi ada satu gambaran yang mungkin bisa menuntun pemahaman Anda. Begini, kuliah saya dibiayai orang tua, alhamdulillah orang tua saya ridho, tidak terpaksa, buktinya sering saya ditanya duluan soal bayaran, hampir tidak pernah minta duluan. Pesan Bapak saya begini "kuliah yang bener!".

Coba apa definisi kuliah yang benar menurut orang kebanyakan? : cepat selesai, kalau perlu cumlaude, kalau sudah selesai mau lanjut lagi ya boleh, atau cari kerja, cari penghidupan dari nilai yang tertera di ijasah-ijasahmu. Soal nyontek, soal titip absen, itu bukan urusan Bapak, bukan juga urusan Departemen Agama.

Setelah lulus, banyak-banyak berdoa agar bernasib baik. Seperti apa nasib baik yang tergambarkan saat berdoa itu? Mengirim lamaran lalu dapat panggilan dan diterima kerja, dengan gaji yang tinggi, menjadi ekor singa di ibukota. Mudik setahun sekali, yang penting tiap bulan ngirimin orang ke kampung. Sedekah 2,5 % itu sudah cukup menurut anjuran agama. Bekerjalah yang baik agar bisa pensiun dengan tenang. Kalau ada rasa bosan, ada naluri kebebasan untuk mengembangkan diri yang terbendung di kantor, katakanlah pada diri sendiri "sudah, ini jalan hidupku, jalani saja, ikhlas saja."

Entahlah, tapi (dengan boleh dipersalahkan atau diperbenarkan) saya punya pendapat yang berbeda tentang kuliah yang benar. Kuliah yang benar adalah mempersiapkan kehidupan yang baik dilandasi dengan penghidupan yang baik. Kekuatan materi disiapkan dengan manajemen prioritas, keberanian mengambil resiko dan bertanggung jawab atas susah senangnya keputusan itu, menjalin relasi yang diluar nalar luas dan tingkatannya, memelihara api idealisme sebagai kekayaan terakhir anak manusia yang kebanyakan lenyap ketika usia muda berakhir dan membangun pilar-pilar masa depan hari ini, mencakup aspek : mental, spiritual, adversity dan skill.

Sehingga seselesainya kuliah saya menjadi manusia, bukan menjadi robot, bukan menjadi mesin, bukan menjadi perpustakaan berjalan. Manusia yang memiliki daya imajinasi menyalak-nyalak, manusia yang memiliki kiprah seluas gandhi, semandiri Dahlah Iskan, sefenomenal Onno W Purbo dan sebermanfaat Triyono Budi Sasongko.

Ya, tentu orang tua saya lebih senang saya tetap menjadi orang, bukan berubah menjadi robot, mesin atau perpustakaan seselesai saya kuliah nanti. Namun demikian, kuliah saya yang kali ini saya rencanakan untuk saya rampungkan 2 semester kedepan. Mengapa begitu? Ada dua alasan utama yang dari beberapa waktu lalu saya simpan dikepala dan kali ini saya ingin tuangkan di note.


Pertama : Chat dengan Pa Adnan

Mungkin bisa dilihat lagi kalimat pembuka note ini, ya, kuliah menyenangkan atau membosankan itu masalah persepsi saja. Sama seperti di postingan lain saya yang berhasil mengubah persepsi adik saya tentang bau uap kawah sebuah kawah di Dataran Tinggi Dieng, dari yang semula dia (adik saya) pikir sebagai bau tidak enak, menjadi bau yang unik (dan enak).

Saya bukan hanya mengajarkan ke adik-adik saya soal persepsi, di training-training saya juga saya sampaikan, di banyak training yang saya ikuti juga saya terima soal ini, di banyak obrolan dengan orang-orang terbaik di negeri ini juga saya dapati materi ini.

Hm, apa iya, untuk materi yang saya bawakan sendiri, saya tidak mau bereksperimen membuktikannya untuk persoalan kampus? Bagaimana mungkin rumus mengubah persepsi yang saya ajarkan saya bilang ampuh, kalau untuk persoalan sepele (kampus) saja saya tidak iseng-iseng coba terapkan?

Itulah alasan pertama saya, saya ingin mengikuti pengingat dari Pa Adnan karena sinkron dengan materi training saya : ubah persepsi dan suskes (dikampus).

Kedua : Sejalan dengan Fase Entrepeneurial Saya

Ini tahun keempat saya berentrepeneur, tahun depan berarti tahun kelima? Apa artinya, kalau saya mengabaikan perbandingan kesuskesan saya dengan teman-teman lain, kalau saya hanya menjadikan parameter kondisi saya sebelum saat ini dengan kondisi saya saat ini, berarti saya sudah sukses ribuan persen.

Memang, kesuksesan yang ribuan persen itu menjadi susah terakumulasi karena bentuknya bermacam-macam, ada yang dalam bentuk kekayaan finansial, kekayaan relasi, kekayaan konsep, kekayaan investasi pilar-pilar masa depan, kekayaan ketahanan mental, kekayaan pengetahuan dan pengalaman hingga kekayaan koleksi kegagalan.

Mulai Awal 2010 kemarin saya berkomitmen untuk mentransformasikan kekayaan yang saya dapatkan itu fokus pada kekayaan finansial, karena apa? kekayaan finansial pada kondisi saya saat ini akan berpotensi menjadi NOS untuk melesatkan kekayaan-kekayaan saya dari keseluruhan segi.

Dan dengan tingkat toleransi kemelesetan hitun-hitungan hingga 4X lipat, seharusnya ketika pas saya selesai kuliah nanti, saya telah mencapai fase entrepenuer aman. Dimana seperti yang para guru-guru terbaik saya bilang, "kamu akan tetap diakui sebagai manusia utuh" (haha, seperti apa manusia tidak utuh itu?).

Apa maksudnya manusia utuh? Saya tidak perlu cemas karena orang tua tidak akan menuntut saya mendaftar CPNS, saya tidak perlu mengemis ke calon mertua dengan status palsu untuk menyunting anaknya. Ya, penghidupan aman, jadi saya tinggal fokus ke kehidupan. Bagaimana usaha yang empat tahun saya fokusi ini berkembang dan melesat, bagaimana orang-orang disekeliling saya yang selama ini terabaikan dapat terberdayakan dengan optimal, bagaimana peluang-peluang besar yang dulu terasa diatas langit saat itu bisa dikelola, bagaimana dunia memandang saya sebagai saya dengan karakter yang saya bawa, bukan pada gelar, pada institusi yang saya naungi.

Ya, setahun lagi saya siap untuk tidak menyandang status mahasiswa. Dan selama setahun kedepan adalah praktikum saya membuktikan kekuatan mengubah persepsi dengan kampus sebagai laboratoriumnya.

Tuesday, December 22, 2009

Terapi Berpikir Positif


Setelah buku tanya jawab remaja tentang Sex, ini buku yang saya baca tadi malam di Perpustakaan terbesar di Purwokerto : Gramedia.

Dr Ibrahim sang penulis adalah seorang motivator muslim. Ya, yang dibahasnya tidak jauh-jauh dari teori kekuatan pikiran. Satu hal yang menarik, arahkanlah pikiran kita dengan ilmu. dalam sehari manusia rata-rata memiliki 60.000 jenis pikiran, sayangnya 80% dari itu arahnya negatif.

Bayangkan 48.000 di pikiran kita arahnya negatif dalam seharinya, bagaimana tidak rusak tuh tubuh dan psikis kita?

Cara mengarahkannya ya dengan ilmu.

apa yang akan terjadi, apa yang kita alami, semua itu tercipta berawal dari pikiran kita sendiri.

Thursday, December 17, 2009

Api Sejarah


Belum selesai membaca buku tebal bernama API Sejarah. Betul, Rasulullah dulu berdagang, dalam berdagang itulah beliau bisa mengaktualisasikan nilai-nilai kemuliaannya sehingga menjadi magnet keteladanan. Maka berkembanglah ajaran yang saat itu masih minoritas yakni "Islam" menjadi The Way of Life yang akhirnya mendunia.

Saad bin Abi Waqash membangun masjid pertama di Tiongkok, itupun beliau kesana pada saat sedang menjalankan misi dagang.

Dan begitu juga bukan Islam masuk ke Indonesia? di Pasar ajaran yang mulia itu diaplikasikan, lalu satu demi satu orang mengikuti, lalu dibangunlah masjid di pasar itu, dijalankanlah aktivitas pengembangan diri berbasis ilmu agama disana.

Ya, tanpa transaksi jual beli, tanpa pasar, ajaran yang mulia itu tidak menyebar sampai kesini dan ke ribuan tempat lainnya sekarang. Disinilah kita perlu hati-hati dalam mendefinisikan makna matre, sekali lagi, bukan pada ihwal mencari uangnya saja, tapi termasuk pada untuk apa uang itu digunakan.

Tanpa uang, Sultan Hasanuddin tidak bisa menegakkan panji Islam dengan peperangan laut terbesar sepanjang sejarah Nusantara. Tanpa uang, mualim (entrepreneur laut) Jawa tidak bisa menjamah ke Kawasan Timur Indonesia.

Sebuah konsep integral, dimana basic need direngkuh berbarengan (jawa : san gawe) dengan self-actualizing need dan kebutuhan-kebutuhan jiwa lainnya. Dua aktivitas berbarengan bisa dijalankan bersamaan, bagaimana itu mungkin? Karena Rasulullah bersama Abu Thalib, karena Saad bin Abi Waqash bersama kafilah dagangnya, karena Walisongo itu jumlahnya bukan satu, tapi sembilan. Ya, tanpa kolaborasi, itu sulit untuk san gawe dilakukan. (lihat juga : dua cara untuk fokus)

Wednesday, December 16, 2009

Pak Waidi

Hidup dan huruf C.


Ilmu ini saya dapat dari Guru kita bersama, Pa Waidi. Ilmu ini kemudian saya teruskan di training leadership yang saya bawakan. Saking sederhananya konsep ini, bahkan anak SMP pun bisa menerimanya dengan baik.


Huruf C itu cekung atau cembung? kalau dari sisi kiri orang melihatnya cembung, sedangkan kalau dari sisi kanan orang akan melihatnya cekung? Jadi salahkah orang yang mengatakan cekung atau cembungnya huruf C? Yang salah adalah yang mengatakan huruf C itu cekung yang cembung atau cembung yang cekung.


Ya, pelajaran ini tentu sudah dikuasai oleh para pembaca blog ini yang budiman, karena itu pelajaran ini memang sengaja diberikan untuk diri saya sendiri. Ini soal ketegasan, ini soal keikhlasan menanggung konsekuensi, bukan soal salah dan benar. Karena saya yakin benar.


Benar, ketika kita mencoba fokus pada kepentingan pribadi, maka orang-orang cekung akan mengatakan kita egois, acuh. Sedangkan orang-orang cembung mengatakan bagus, kamu sedang memampukan diri untuk menjadi teladan.


Ketika kita mencoba merangkul semua dalam kepentingan bersama, orang-orang cekung acuh tak acuh dan bilang melunjak, menyalahi wewenang, tetapi orang-orang cembung mengatakan, inisiatif yang bagus untuk menjalin kembali komunikasi.


Sudahlah, pakai persepsi diri sendiri saja.

Saturday, December 5, 2009

Sedona Method

"tadi aku lupa jelasin

ada 3 cara mengelola emosi (sedona method)
1. Menahan (memendam)
2. Mengekspresikan (marah=banting piring, memaki dsb, sedih = menangis dsb)
3. Level tertinggi yaitu melepas / release", Arif Rahutomo


"Sebenarnya perasaan dan pikiran itu harus imbang menurut ku
saat yang dominan perasaan
segera aktifkan akal
begitupun sebaliknya
ketika akal terlalu dominan
aktifkan hati
nah aktivitas itu selalu ada residu
(ya yang sesak didada itu)
itu yang harus dibuang
bahagia pun kan sesak di dada
harus dibuang", lanjutnya.

Tuesday, November 17, 2009

Totto Chan

"Serahkan mereka kepada alam," begitu katanya. "Jangan patahkan ambisi mereka. Cita-cita mereka lebih tinggi dari cita-cita kalian." belum pernah ada taman kanak-kanak seperti itu di Jepang.

Dan Totto Chan membuat sejarah dalam penerbitan Jepang karena terjual 4.500.000 buku dalam setahun.

Tetsuko Kuroyanagi

Thursday, November 12, 2009

Pak Darmono dan Inspirasinya Tentang Ilmu

"Ilmu lebih utama daripada harta karena harta itu harus dijaga olehmu sedangkan ilmu akan menjagamu"

"Iya, saya percaya", Dengan merasa sok spiritualis, diiyakan saja deh, karena kayaknya kalimatnya bagus, dan betul itu adanya. Hm, lalu saya kok bertanya, bagaimana si cara ilmu menjaga kita?

Kan sudah jelas tuh bagaimana cara kita menjaga harta, yakni dengan membeli brangkas, dengan mengasuransikan mobil, menyewa satpam dan bla bla. Nah, apakah cukup penjagaan itu? Tidak, kita juga harus menjaga keterikatan harta dengan perasaan kita.

Bagaimana itu maksudnya? Begini, misal kita hanya punya harta 10.000 rupiah, maka apa yang terjadi ketika uang itu bertambah 5.000 rupiah? senang luar biasa. Lalu seandainya kita punya harta 1.000.000.000 rupiah, dan uang itu berkurang hanya menjadi tersisa 1.000.000 rupiah, nah apa yang kita rasakan? Sedih, hancur, luluh, stres, bunuh diri? Padahal 1.000.000 itu jauh lebih banyak dari 15.000 rupiah.

Lalu yang berikutnya, bagaiman sesungguhnya cara ilmu menjaga kita? Misal, seorang berilmu itu sedang down, apakah yang dia lakukan sama dengan yang dilakukan oleh orang yang berilmu yang sedang down pula? jawabannya : tidak. Ilmunya akan menuntun pikirannya untuk, "membaca buku ini agar...", "datang ke tempat ini maka kamu akan...", "atau "pergilah ke orang ini, dia bisa membantumu dengan...".

Ilmu yang kita miliki menjaga kita salah satunya dengan memberikan jalan-jalan solusi kepada kita.

regards

Rizky

Monday, November 9, 2009

Eko Laksono

Para pemimpin yang unggul bisa berbuat sesuatu yang unggul, karena mereka punya pengetahuan yang unggul. Visi, dihasilkan dari pengetahuan yang lebih banyak, lebih besar, dan lebih tajam dari orang kebanyakan. Dengan pengetahuan yang unggul, mereka tahu apa yang bisa dilakukan.


Kalau anda belajar tentang para pemimpin besar, Sukarno, Hatta, Gandhi, Napoleon, anda akan lihat mereka senang belajar dari para tokoh-tokoh besar dunia lainnya. Mereka juga belajar bagaimana membangkitkan bangsanya jadi bangsa besar, dengan belajar dari bangsa-bangsa besar lainnya. Sampai akhirnya mereka tahu caranya.


Dan anda betul sekali, para pemimpin terbesar, Gandhi, atau Muhammad Yunus, dan tentu Nabi Muhammad Saw, punya satu kesamaan. Mereka adalah pejuang, aktivis yang paling revolusioner. Mereka samasekali tidak pernah memikirkan jabatan atau kekuasaan. Mereka berjuang karena semata-mata mencintai bangsanya, dan karena perjuangan mereka adalah ibadah yang tertinggi. Itu yang membuat mereka paling istimewa.


Mereka bisa merubah bangsanya, bahkan hanya dengan kemauan yang kuat. Bayangkan, mereka tidak punya pemerintahan dengan ribuan pejabat dan aparat, tidak punya anggaran milyaran atau trilyunan, tapi mereka mampu merubah seluruh bangsanya. Sukarno-Hatta pun mempersatukan seluruh Indonesia tidak dengan anggaran bertrilyun-trilyun.


Jendral Sudirman, bisa mengalahkan militer Belanda dan Jepang yang modern, tidak punya anggaran bertrilyun-trilyun. Kecintaan mereka pada bangsanya jauh lebih kuat dari apapun. Jadi kalau anda juga mencintai bangsa ini, andapun akan bisa melakukan sesuatu yang besar.

Tuesday, November 3, 2009

Planet of The Appes

Kemarin habis nonton Planet of The Appes. Menarik, sangat imajinatif ASLI, sudah pastilah si sutradara bukan produk pendidikan Indonesia yang kalau nggambar semuanya nggambar gunung & yang kalau pag guru/dosen lagi ngobyek dikasih tugaas yang banyak (mana tulis tangan pula).

Bagi yang belum nonton, film ini mengisahkan tentang seorang astronot yang tedampat di sebuah planet dengan dunia dan waktu yang berselisih ribuan tahun dengan dirinya, dimana di planet itu manusia menjadi budak para kera. Bayangkan saja, ada gerobak yang narik manusia dan yang nyambukin kera (hm, bukankah di bumi sekarang juga seperti itu ya, monyet2 tukang korup berseragam dinas mencambuki pedagang kaki lima yang rajin ibadah dengan pedasnya, mengenaskan).

Salah satu bagian yang menarik di film itu adalah ketika sang astronot menyuarakan ajakan kepada manusia-manusia primitif itu untuk melawan bala tentara kera. Yah, karena saking lamanya, turun temurun tidak ada sejarah manusia bisa sejajar dengan kera di planet itu, maka si manusiapun semua gentar, takut untuk melawan. sampai sang astronot bilang, "hey, percayalah, sejarah kalian para manusia memiliki prestasi yang gemilang, yang menakjubkan", apalagi untuk sekedar melawan kera. Tapi tetap semua terdiam.

Yah, begini, bukan? kondisi kebanyakan kita saat ini. Karena kungkungan tradisi yang belasan tahun lamanya, sehingga tak ada siswa yang berani berkutik ketika dosen perlu dikritisi bahkan ditegur atau disalahkan. Begitu juga memprihatinkan, anak-anak tumbuh dewasa, tanpa pernah memiliki kesempatan untuk mengembangkan karakter pribadinya.

Disekolah dicekokin teori ini dan itu, di kampus dituang air pengetahuan yang nantinya juga tak tahu seberapa persen itu berguna, eh begitu wisuda masyarakat menjustisenya dengan begitu kejam, "kamu bukannya cari duit, malah...".

Akhirnya melamar kerja sekenanya, betah tidak betah diterima seolah merupakan takdir yang takbisa lekang darinya. Beberapa yang tidak betah berpindah ini dan itu, dengan seribu satu alasan, "disitu ilmuku nggak kepakai", "disitu tenagaku diforsir" sampai "disitu gajinya kurang".

Dan merekapun menua dengan satu perenungan yang tak pernha berubah, "sebetulnya apa si yang aku kerja dalam kehidupan ini?". Hm, akhir hayat yang mengenaskan bagi orang-orang yang seperti itu, semoga kita tidak termasuk.

Yah, pergilah dari dunia kita, menjelajahlah ke angkasa luas. Tak punya pesawat ulang-alik? Tidak perlu pesawat apapun untuk menerbangkan otak kita dalam galaksi imajinasi yang tidak ada batas dan sekatnya.

Kenapa kita harus menerbangkan pikiran kita? Agar kita tahu, tradisi-tradisi mana yang harus kita pegang dan tradisi-tradisi mana yang harus tidak kita percayai. Tanpa itu, kita hanya menjadi pecundang yang minta dihargai, yang tak pernah betah bekerja dimanapun, kecuali : dibetah-betahin.

Salah satu tradisi yang musti kita lepas dari kungkungannya adalah tradisi menakar usaha kita dengan hasil, tradisi membarter tenaga dan waktu kita dengan imbalan. Kita masih muda, masih punya kesempatan begitu luas untuk menempa karakter, tidak pantaslah kita "ngarani" seberapa kita harus dibayar, kalau kita sendiri belum paham apa sebetulnya potensi yang kita miliki, belum terbentuk karakter kita.